Fish

Senin, 14 Februari 2011

ETIS MEDIS AIDS MENURUT PANDANGAN AGAMA KRISTEN

BAB I
PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG
Acquired Immune Deficiency Syndrome (AIDS) adalah kumpulan gejala atau sindroma menurunnya system kekebalan yang diperoleh. AIDS bukan penyakit keturunan tetapi adalah penyakit menular yang menyerang system kekebalan. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang disebut Human Immunodeficiency Virus (HIV). Seseorang yang sudah terinfeksi oleh virus tersebut tidak akan langsung terlihat gejala-gejalanya. Gejala penyakit akan timbul setelah bertahun-tahun, sementara yang bersangkutan sudah dapat menularkan HIV kepada orang lain sejak mulai terinfeksi, tetapi dengan cara yang spesifik.
HIV adalah nama virus penyebab terjadinya AIDS. Virus ini sebetulnya sangat rapuh dan mudah dimatikan bila berada di luar tubuh manusia, yaitu dengan memanaskan 56 oC selama 30 menit, atau dengan alcohol 70%, kaporit atau betadin. Tapi sekali saja virus HIV berhasil masuk ke dalam tubuh atau sel darah putih, maka seumur hidup orang tersebut akan terinfeksi.
Sel darah putih adalah bagian dari system pertahanan tubuh terhadap penyakit, yang bekerja sedemikian rupa (sangat kompleks) sehingga dalam kondisi normal kita akan bebas dari sakit karena terbentuknya zat anti terhadap kuman yang berhasil masuk ke tubuh kita. HIV yang berhasil masuk dalam tubuh manusia akan menempel pada sel darah putih kemudian bersembunyi di dalam inti sel dan bersatu dengan DNA yang kemudian akan berkembang biak lalu menghancurkan sel darah putih.
Realitas menunjukkan AIDS bisa menyerang siapa saja termasuk orang beragama. Virus HIV tidak pernah menanyakan agama, usia, jenis kelamin, gaya hidup, maupun preferensi seksual. Melintasi garis-garis batas sosial, politik, dan ekonomi.

B. RUMUSAN MASALAH
1. Pandangan medis AIDS ?
2. Pendangan Etis AIDS menurut agama Kristen ?

C. TUJUAN PENULISAN
1. Mengetahui apa pandangan medis tentang AIDS
2. Mengetahui pandangan etis AIDS menurut agama Kristen
3. Mengerti apa yang bisa kita lakukan pada penderita AIDS



BAB II
PEMBAHASAN
ETIS MEDIS TENTANG AIDS MENURUT PANDANGAN
AGAMA KRISTEN

HIV adalah virus dan dipandang dari sudut medis, AIDS adalah konsekuensi suatu infeksi virus. AIDS pertama kali dikenali dan diperkenalkan di negara-negara industri yang kaya. AIDS membawa dampak yang beranekaragam bagi masyarakat. Disatu tempat, ia mengemukakan tantangan terhadap pranata serta struktur social yang ada. Di lain tempat, ia mengangkat masalah penyalahgunaan obat-obat terlarang dengan segala resikonya. Sedang ditempat yang lain lagi, ia mempertanyakan berbagai aspek yang menyangkut seksualitas manusia.
Jumlah kasus HIV/AIDS tiap tahun bertambah dan makin banyak provinsi yang melaporkan kasus. Riwayat alamiah penyakit menunjukan bahwa orang yang telah terinfeksi HIV akan menunjukan gejala klinis setelah wakktu yang relative lama yaitu antara 2-10 tahun. Oleh karena itu, Badan Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan jumlah kasus yang sebenarnya adalah ppaling tidak 100 kali jumlah kasus yang dilaporkan. Perkiraan di Indonesia saat ini sudah ada beberapa puluhan ribu kasus HIV/AIDS.
HIV dapat berada dalam semua cairan tubuh seperti air mata, air ludah, cairan otak, cairan sperma, cairan vagina, darah, air susu ibu dan cairan lainnya. Terbanyak dilaporkan HIV ada dalam cairan otak (liquor cerebro spinalis). Tetapi cairan yang potensial dapat menularkan adalah cairan sperma, cairan vagina, darah dan air susu ibu.
Ada tiga cara penularan utama. Pertama, HIV bisa menular kepada seseorang yang berhubungan seks dengan orang yang sudah terinfeksi HIV. Perempuan lebih mudah tertular oleh laki-laki yang terinfeksi dibandingkan laki-laki oleh perempuan yang terinfeksi karena alat kelamin perempuan lebih mudah terluka. Kedua, HIV dapat menular melalui perlukaan kulit. Perlukaan di sini berupa tusukan alat suntik yang bekas orang yang telah terinfeksi atau melalui transfusi darah orang yang telah terinfeksi. Perlukaan lain adalah seperti alat cukur, alat-alat kedokteran, atau akupuntur yang tercemar dan belum disterilisasi juga dapat menjadi media penularan HIV. Ketiga, melalui ibu hamil yang telah terinfeksi kepada anaknya. Penularan ini dapat terjadi sewaktu bayi masih dalam kandungannya melalui plasenta atau waktu proses kelahiran dan waktu menyusui.
Penderita AIDS sering mendapat perlakuan yang tidak baik dari masyarakat karena banyak adanya salah pengertian terhadap bagaimana virus HIV menular. Masyarakat selalu menghubungkan penderita AIDS dengan perilaku seks yang jelek. AIDS adalah sangat kejam, tetapi mengucilkan penderita AIDS adalah tindakan yang lebih kejam. Perangilah AIDS tetapi bukan penderitanya. (Cuplikan dari Pedoman Penyuluhan AIDS Menurut Agama Islam, Depkes hal. 19, 1994).
Bila kita sudah memahami HIV/AIDS itu sebagai pekerjaan virus, maka yang kita perangi adalah virusnya dan yang kita tolong adalah si manusia penderitanya. Setiap peristiwa yang terjadi di dalam kehidupan kita, apalagi yang tragis dan yang istimewa, mengajak kita untuk mencari “tangan” Tuhan yang melalui peristiwa-peristiwa itu mungkin hendak member peringatan kepada kita. Oleh karena itu, HIV/AIDS merupakan peringatan Tuhan agar manusia kembali kepada gaya hidup sehat. Tanpa bermaksud untuk membenarkan perilaku menyimpang dalam bentuk apapun, sebagai orang beragama yang seharusnya kita katakan adalah bahwa Tuhan membenci dosa, namun mengasihi para pendosa. Apalagi bila kita menyadari bahwa yang tertular oleh HIV/AIDS dalam jumlah yang besar adalah para perempuan dan bayi-bayi yang “tidak berdosa”. Seperti kata Profesor Thomas Mann dari Universitas Harvard, bahwa yang mesti kita perangi adalah virus, bukan orang.
Walaupun tidak banyak yang dapat dilakukan oleh agama untuk tindakan-tindakan yang bersifat kuratif namun menurut keyakinan saya, banyak hal-hal yang bermakna yang dapat dilakukan untuk tujuan-tujuan yang bersifat preventif dan rehabilitatif. Sekalipun agama tidak dapat berbuat banyak dalam hal curing (penyembuhan/pengobatan), ia dapat berbuat banyak dalam hal melakukan caring (perhatian/kepedulian). Di samping pembinaan umat untuk menganut gaya hidup sehat, yang tidak kurang penting yang dapat dilakukan agama adalah ikut serta menyebarkan informasi yang benar tentang AIDS sehingga tercipta sikap waspada tanpa memicu kecurigaan.



BAB III
P E N U T U P
Penderita AIDS seharusnya mendapat perlakuan yang baik dari keluarga dan masyarakat karena mereka yang terinfeksi sangat memerlukan dukungan dari orang-orang disekitarnya. Dengan begitu mereka merasa memiliki kehidupan yang sepantasnya mereka dapatkan dan kita bisa membuat kehidupan mereka jadi lebih berarti. Agama juga semestinya mengajak masyarakat untuk menyadari bahwa yang harus diperangi adalah virusnya bukan orangnya.





Semoga bisa bergunaaa...
>.<

1 komentar:

Entri Populer Q

Share it