Hy semua... This is my life and I want to share its. Sorry if there something wrong !!! Hahahaaaa... Kehidupanku akan ku bagi di sini. Juga tugas-tugas kuliah yang sayang kalau di simpan begitu saja. Bahagia... Sedih... Semoga bisa menjadi kenangan yang indah di blog ini. Semoga kita bisa saling bertukar informasi... ^_^
Senin, 08 Juli 2013
DISTOSIA BAHU
FAKTOR RESIKO
•Perkiraan bayi besar
•Riwayat kencing manis
•Riwayat persalinan dan keluarga dengan kelahiran bayi besar
MEKANISME PENURUNAN BAHU
Setelah kelahiran kepala, akan terjadi putaran paksi luar yang menyebabkan kepala berada pada sumbu normal dengan tulang belakang. Bahu pada umumnya akan berada ada diameter obliq, di bawah ramus pubis, Saat ibu mengedan, dorongannya menyebabkan bahu sedikit berputar, sehingga bahu anterior berada tepat dibawah simpisis pubis dan bahu anterior lahir. Jika bahu gagal melakukan putaran untuk menyesuaikan dengan sumbu miring panggul dan tetap berada pada posisi anteroposterior, maka bahu akan terbentur dengan simpisis dan mengakibatkan kemacetan.
Distosia bahu adalah :
Impaksi bahu depan diatas simfisis
Ketidakmampuan melahirkan bahu dengan mekanisme/cara biasa
Diagnosis banding :
Snug Distosia (karena obesitas ibu) dan bed Distosia (karena kasur yang terlalu elastis)
PENYEBABNYA :
Adanya Deformitas Panggul
•Fase aktif dan Kala II yang pendek pada multipara yang menyebabkan penurunan kepala yang terlalu cepat, sehingga bahu tidak melipat saat melalui jalan lahir
•Bayi besar (makrosemia)
•Tali pusat pendek
•Kembar yang terkunci
TANDA – TANDA DISTOSIA BAHU
•Dagu nampak tertarik kearah perineum
•Turtle sign
•Kepala tidak/sulit mengadakan putaran paksi luar
•Pada saat menarik kepala kerah bawah, terasa berat dan bahu depan tidak lahir
KOMPLIKASI
Pada Janin akan mengakibatkan gangguan pada fungsi jantung dan aliran darah ke intracranial sehingga daat mengakibatkan kematian pada saat intrapartum atau masa neonatal
•Komplikasi lain pada janin mengakibatkan paralisis plexus brachials dan fraktur clavikula.
•Sedangkan pada ibu, akan mengakibatkan robekan pada vagina yang luas.
Berapa waktu yang aman untuk penangan distosia bahu????
Ada yang berpendapat
5 menit, 10 menit kalau sebelumnya belum ada gangguan, yang terbaik adalah 3 menit
(helen varney, 2008)
HAL YG PERLU DIHINDARI SAAT MENEMUKAN DISTOSIA BAHU
4 P
1. Panic
2. Pulling : menarik kepala bayi
3. Pusshing : dorongan fundus
4. Pivoting : angulasi atau memutar kepala
BEBERAPA PENDEKATAN DALAM PENANGAN DISTOSIA BAHU, YAITU
1. HELPERR
Association of Familiy Practitioners (AAFP, 2001)
•H : Help.
Segeralah minta tolong pada masyarakat lain untuk memanggil bidan atau dokter terdekat, dan menyiapkan transportasi.
•E : Evaluasi.
Bidan mengevaluasi jalan lahir dan posisi bahu, dan jika perlu melakukan tindakan episiotomi.
•L : Legs Hiperfleksi
Bidan memposisikan ibu dengan kaki hiperfleksi kearah dada atau Manuver Mc.Robert
P : Pressure Suprapubik
Memberikan tekanan pada suprapubik untuk menekan bahu depan
•E : Enter Vagina
Melakukan manuver terhadap bahu dengan memasukan tangan pada vagina (lebih lanjut akan dijelaskan)
•R : Remove
Melahirkan bahu dengan cara menggeser posisi bahu atau mengeluarka lengan belakang
•R : Roll
Meminta ibu berguling pada posisi all fours (merangkak)
2. ALARM
A sk for help (meminta bantuan)
L ift the legs & buttocks (melipat kaki dan mengangkat bokong-mc.Robert)
A nterior shoulder disimpaction (menghilangkan impaksi bahu depan)
Ekternal (Manuver massanti, rubin 1)
Internal (episiotomi dan Manuver rubin 2)
R otation of posterior shoulder (memutar bahu belakang menjadi bahu depan)
M annual removal posterior arm (mengeluarkan lengan belakang)
RUMAH TUNGGU KELAHIRAN
DEFINISI :
Rumah tunggu kelahiran adalah suatu tempat atau ruangan yang berada dekat fasilitas kesehatan (RS, Puskesmas, Poskesdes) yang dapat digunakan sebagai tempat tinggal sementara ibu hamil dan pendampingnya (suami/kader/dukun atau keluarga) selama beberapa hari, saat menunggu persalinan tiba dan beberapa hari setelah bersalin.
TUJUAN
TUJUAN UMUM :
Menurunkan kematian ibu akibat keterlambatan penanganan pada ibu hamil, bersalin dan nifas.
TUJUAN KHUSUS :
1. Tersedianya rumah tunggu kelahiran sesuai kebutuhan setempat.
2. Adanya dukungan dana pemerintah daerah, swasta maupun masyarakat.
3. Adanya jejaringan pelayanan antara fasilitas kesehatan dengan rumah tunggu persalinan.
4. Meningkatnya persalinan di tenaga kesehatan.
KRITERIA SASARAN
Sasaran program rumah tunggu kelahiran adalah ibu hamil dengan faktor risiko dan risiko tinggi serta ibu hamil dari lokasi dengan geografi sulit.
Ibu dengan faktor risiko dan risiko tinggi yaitu :
1. Primigravida kurang dari 20 tahun atau lebih dari 35 tahun
2. Anak lebih dari 4.
3. Jarak persalinan terakhir dengan kehamilan sekarang kurang dari 2 tahun.
4. Kurang Energi Kronis (KEK) dengan lingkar lengan atas kurang dari 23,5 cm, atau penambahan berat badan < 9 kg selama masa kehamilan.
5. Anemia dengan hemoglobin < 11g/dl
6. Tinggi badan kurang dari 145 cm atau dengan kelainan bentuk panggul dan tulang belakang.
7. Riwayat hipertensi dalam kehamilan sebelumnya atau sebelum kehamilan ini.
8. Sedang / pernah menderita penyakit kronis, antara lain : tuberkulosis, kelainan jantung ginjal hati, psikosis, kelainan endokrin (Diabetes Mellitus, Sistemik Lupus Erymathosus, dll), tumor dan keganasan.
9. Riwayat kehamilan buruk : keguguran berulang, kehamilan ektopik terganggu, mola hidatidosa, ketuban pecah dini, bayi dengan cacat kongenital.
10. Riwayat persalinan dengan komplikasi : persalinan dengan seksio sesaria, ekstraksi vakum / forceps.
11. Riwayat nifas dengan komplikasi : perdarahan pasca persalinan, infeksi masa nifas, psikosis post partum (post partum blues).
12. Riwayat keluarga menderita penyakit kencing manis, hipertensi dan riwayat cacat kongenital.
13. Kelainan jumlah janin : kehamilan ganda, janin dampit, monster.
14. Kelainan besar janin : pertumbuhan janin terhambat, janin besar.
15. Kelainan letak dan posisi janin : lintang / oblique, sungsang pada usia kehamilan lebih dari 32 minggu.
PENENTUAN LOKASI
Semua rumah tunggu kelahiran harus berada dekat dengan fasilitas kesehatan, hal ini dimaksud agar dapat segera membawa ibu hamil apabila saat bersalin tiba atau terjadi kegawatdaruratan. Jarak yang dianjurkan untuk rumah tunggu kelahiran adalah tidak lebih dari 10 menit dengan berjalan kaki. Makin dekat lokasi rumah tunggu kelahiran dari fasilitas kesehatan, makin baik karena apabila terjadi kegawatdaruratan ibu hamil dapat ditangani lebih cepat.
KRITERIA PEMILIHAN RUMAH TUNGGU KELAHIRAN
Rumah tunggu kelahiran dapat merupakan sebuah rumah atau ruangan yang merupakan bagian dari rumah atau bangunan lain.
Rumah tunggu kelahiran dapat juga dilpilih dari rumah keluarga atau kerabat ibu hamil, asalkan jaraknya dekat dengan fasilitas kesehatan serta transportasinya mudah.
Untuk pemilihan rumah tunggu kelahiran ini, perlu diperhatikan kelayakan huni bagi ibu hamil dan pendampingnya, dimana terdapat ruangan untuk tidur dan kamar mandi serta air bersih.
JENIS RUMAH TUNGGU KELAHIRAN
Ditentukan jenis rumah tunggu kelahiran yang akan didirikan apakah rumah tunggu Poskesdes, rumah tunggu Puskesmas, atau rumah tunggu Rumah Sakit. Jenis rumah tunggu tergantung pada kebutuhan dan kemampuan daerah.
a. Rumah Tunggu Poskesdes
Adalah bangunan atau ruangan yang berada dekat Poskesdes, digunakan untuk ibu hamil yang non risiko.
b. Rumah Tunggu Puskesmas
Adalah rumah tunggu kelahiran yang berada dekat Puskesmas yang mampu memberikan pertolongan persalinan non risiko dan atau beberapa risiko yang disesuaikan dengan kemampuan Puskesmas.
c. Rumah Tunggu Rumah Sakit
Adalah rumah tunggu kelahiran yang berada dekat dengan rumah sakit, digunakan oleh ibu hamil yang membutuhkan pertolongan persalinan di rumah sakit.
BENTUK PELAYANAN YANG DITAWARKAN
Penyediaan pelayanan dalam rumah tunggu kelahiran sangat bervariasi, hal ini bergantung pada kebutuhan setempat dan sumberdaya yang tersedia. Beberapa alternatif pelayanan yang disediakan dalam rumah tunggu kelahiran antara lain :
a. Rumah tunggu kelahiran tanpa pelayanan
Merupakan salah satu bentuk rumah tunggu kelahiran yang hanya menyediakan fasilitas untuk tinggal saja. Rumah ini dapat terdiri dari ruangan ruangan yang berisi meubelair standar, dapur denga peralatannya serta kamar mandi. Ibu hamil dan pendampingnya dapat tinggal di sini, tetapi dengan menyediakan keperluan sehari harinya sendiri, seperti berbelanja, memasak, mencuci dan membersihkan rumah, serta memenuhi segala kebutuhan pribadinya.
b. Rumah tunggu kelahiran dengan pelayanan
Rumah tunggu kelahiran ini selayaknya sebuah penginapan. Ibu hamil dapat tinggal di sini dengan mendapatkan pelayanan seperti makanan dan minuman, mencuci pakaian dan lain lain (tergantung kesepakatan setempat). Pengadaan kebutuhan sehari -hari untuk ibu hamil selama di rumah runggu kelahiran dapat dikelola oleh masyarakat melalui biaya dari masyarakat sekitar, pemerintah daerah atau donatur.
c. Rumah tunggu kelahiran dengan pelayanan tambahan
Rumah tunggu kelahiran model ini menyediakan berbagai macam kegiatan tambahan seperti memberikan ketrampilan perempuan, penyuluhan kesehatan, peningkatan pendapatan,dsb.
(Ditulis oleh Sri Hartati dari Pedoman Rumah Tunggu Kelahiran - Depkes RI 2009)
Minggu, 07 Juli 2013
Abrupsio Plasenta
Abrupsio plasenta adalah pemisahan yang terlalu dini atau prematuredari plasenta yang tertanam secara normal pada dinding uterus dengan implantasinormal pada kehamilan trimester ketiga. Abrupsio plasenta ataupersalinan yang terlalu dini dari plasenta merpakan lepasnyasebagian atau seluruh plasenta dari tempat penanamannya. Terlepasnya plasenta sebelum waktunya menyebabkan timbunan darah antara plasenta dan dinding rahim yang dapat menimbulkan gangguan terhadap ibu maupun bayi. Gangguan terhadap ibunya dapat dalam bentuk:
• Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah umum
• Terjadi penurunan TD, peningkatan nadi dan pernapasan
• Penderita tampak anemis
• Dapat menimbulakan gangguan pembekuan darah, karena terjadipembekuan intravaskular yang diikuti hemolisis darah sehingga fibrinogenmakin berkurang dan memudahkan terjadinya perdarahan
• Setelah persalinan dapat menimbulkan perdarahan postpartum karenaatonia uteri atau gangguan pembekuan darah
• Menimbulkan gangguan fungsi ginjal dan terjadi emboli yang menimbulkankomplikasi sekunder
• Peningkatan timbunan darah di belakang plasenta dapat menyebabkan rahimyang keras, padat, dan kaku.
Abrupsio Plasenta
Abrupsio plasenta adalah pemisahan yang terlalu dini atau prematuredari plasenta yang tertanam secara normal pada dinding uterus dengan implantasinormal pada kehamilan trimester ketiga. Abrupsio plasenta ataupersalinan yang terlalu dini dari plasenta merpakan lepasnyasebagian atau seluruh plasenta dari tempat penanamannya. Terlepasnya plasenta sebelum waktunya menyebabkan timbunan darah antara plasenta dan dinding rahim yang dapat menimbulkan gangguan terhadap ibu maupun bayi. Gangguan terhadap ibunya dapat dalam bentuk:
• Berkurangnya darah dalam sirkulasi darah umum
• Terjadi penurunan TD, peningkatan nadi dan pernapasan
• Penderita tampak anemis
• Dapat menimbulakan gangguan pembekuan darah, karena terjadipembekuan intravaskular yang diikuti hemolisis darah sehingga fibrinogenmakin berkurang dan memudahkan terjadinya perdarahan
• Setelah persalinan dapat menimbulkan perdarahan postpartum karenaatonia uteri atau gangguan pembekuan darah
• Menimbulkan gangguan fungsi ginjal dan terjadi emboli yang menimbulkankomplikasi sekunder
• Peningkatan timbunan darah di belakang plasenta dapat menyebabkan rahimyang keras, padat, dan kaku.
KETUBAN PECAH DINI
KETUBAN PECAH DINI
dr.Bambang Widjanarko, SpOG
Ketuban Pecah Dini ( amniorrhexis – premature rupture of the membrane PROM ) adalah pecahnya selaput korioamniotik sebelum terjadi proses persalinan. Secara klinis diagnosa KPD ditegakkan bila seorang ibu hamil mengalami pecah selaput ketuban dan dalam waktu satu jam kemudian tidak terdapat tanda awal persalinan, dengan demikian untuk kepentingan klinis waktu 1 jam tersebut merupakan waktu yang disediakan untuk melakukan pengamatan adanya tanda-tanda awal persalinan.
Bila terjadi pada kehamilan < 37 minggu maka peristiwa tersebut disebut KPD Preterm (PPROM = preterm premature rupture of the membrane - preterm amniorrhexis)
Periode Laten : adalah interval waktu dari kejadian pecahnya selaput chorioamniotik dengan awal persalinan.
Arti klinis Ketuban Pecah Dini adalah :
1. Bila bagian terendah janin masih belum masuk pintu atas panggul maka kemungkinan terjadinya prolapsus talipusat atau kompresi talipusat menjadi besar.
2. Peristiwa KPD yang terjadi pada primigravida hamil aterm dengan bagian terendah yang masih belum masuk pintu atas panggul seringkali merupakan tanda adanya gangguan keseimbangan feto pelvik..
3. KPD seringkali diikuti dengan adanya tanda-tanda persalinan sehingga dapat memicu terjadinya persalinan preterm dengan segala akibatnya.
4. Peristiwa KPD yang berlangsung lebih dari 24 jam ( prolonged rupture of membrane) seringkali disertai dengan infeksi intrauterine dengan segala akibatnya.
5. Peristiwa KPD dapat menyebabkan oligohidramnion dan dalam jangka panjang kejadian ini akan dapat menyebabkan hilangnya fungsi amnion bagi pertumbuhan dan perkembangan janin.
ANGKA KEJADIAN
KPD merupakan komplikasi kehamilan pada 10% kehamilan aterm dan 4% kehamilan preterm.
KPD PRETERM menyebabkan terjadinya 1/3 persalinan preterm dan merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas perinatal.
Faktor resiko :
• Golongan sosio ekonomi rendah
• Ibu hamil tidak menikah
• Kehamilan remaja
• Merokok
• Penyakit Menular Seksual
• Vaginosis bakterial
• Perdarahan antenatal
• Riwayat ketuban pecah dini pada kehamilan sebelumnya
KETUBAN PECAH DINI dan
KETUBAN PECAH DINI PADA KEHAMILAN PRETERM
Selaput ketuban dan cairan amnion memiliki fungsi penting selama pertumbuhan dan maturasi janin.
• Kantung amnion merupakan tempat yang baik bagi gerakan dan perkembangan muskulo-skeletal janin.
• Gerakan pernafasan yang disertai aliran cairan amnion kedalam saluran pernafasan janin penting bagi perkembangan saccus alveolaris paru.
• Selaput ketuban merupakan penghalang masuknya polimikrobial flora vagina kedalam kantung amnion.
KPD yang terjadi saat kehamilan aterm maupun preterm dapat merugikan outcome perinatal oleh karena adanya pengaruh mikrobiologis dan mekanis yang merugikan bagi pertumbhan dan perkembangan produk konsepsi akibat hilang atau berkurangnya cairan amnion dan selaput korioamniotik.
Komplikasi
KPD preterm seringkali menyebabkan terjadinya:
• Persalinan preterm
• Chorioamnionitis
• Endometritis
• Gawat janin atau asfiksia intrauterin ( pengaruh tekanan pada talipusat )
Persalinan preterm, korioamnionitis dan endometritis diakibatkan langsung oleh invasi mikroba kedalam cavum amnion atau inflamasi selaput chorioamniotik
Angka kejadian chorioamnionitis berbanding terbalik dengan usia kehamilan, menurut Hillier dkk ( 1988):
• Chorioamnionitis histologik 100% pada usia kehamilan kurang dari 26 minggu
• Chorioamnionitis histologik 70% pada usia kehamilan kurang dari 30 minggu
• Chorioamnionitis histologik 60% pada usia kehamilan kurang dari 32 minggu
Gawat janin atau asfiksia intrauterin merupakan akibat dari kompresi talipusat yang berkepanjangan dan berulang akibat berkurangnya cairan amnion atau prolapsus talipusat
KPD pada kehamilan yang sangat muda dan disertai dengan oligohidramnion yang berkepanjangan menyebabkan terjadinya deformasi janin antara lain :
• Hipoplasia pulmonal
• Potter ‘s fascia
• Deformitas ekstrimitas
Pemeriksaan diagnostik awal
• Pada pasien hamil yang datang dengan keluhan “keluar cairan” harus dipikirkan diagnosa KPD
• Tujuan umum diagnostik awal adalah :
1. Konfirmasi diagnosa
2. Menilai keadaan janin
3. Menentukan apakah pasien dalam keadaan inpartu aktif
4. Menyingkirkan kemungkinan adanya infeksi
• Pemeriksaan vaginal (vaginal toucher) harus sangat dibatasi termasuk untuk pemeriksaaan diagnostik awal
• VT sebelum persalinan meningkatkan kejadian infeksi neonatus dan memperpendek periode laten.
• Dengan menghindari VT , usaha mempertahankan kehamilan menjadi semakin lama.
• Pemeriksaan inspekulo harus terlebih dahulu dilakukan meskipun pasien nampak sudah masuk fase inpartu oleh karena dengan pemeriksaan inspekulo dapat dilakukan penentuan dilatasi servik.
• Oleh karena infeksi intra amniotik subklinis juga sering terjadi dan keadaan ini adalah merupakan penyebab utama dari morbiditas ibu dan anak, maka evaluasi gejala dan tanda infeksi pada pasien harus dilakukan secara teliti
• Tanda infeksi yang jelas terdapat pada infeksi lanjut antara lain : demam, takikardi, uterus tegang, getah vagina berbau dan purulen
• Diagnosa dini infeksi intraamniotik dilakukan dengan pemeriksaan :
• 1. Leukositosis > 15.000 plp
• 2. Protein C-reactive
• Deteksi infeksi cairan amnion dilakukan dengan amniosentesis
Penatalaksanaan KPD tergantung pada sejumlah faktor, antara lain :
(1) Usia kehamilan
(2) Ada atau tidak adanya chorioamnionitis
A. Kehamilan yang disertai Amnionitis.
Pada kasus KPD yang disertai dengan adanya tanda-tanda infeksi chorioamnionitis harus dilakukan terminasi kehamilan tanpa memperhatikan usia kehamilan.
Sebelum terminasi kehamilan, diberikan antibiotika spektrum luas untuk terapi amnionitis
B. Kehamilan aterm tanpa amnionitis
Pada kehamilan aterm, penatalaksanaan KPD tanpa disertai amnionitis dapat bersifat aktif (segera melakukan terminasi kehamilan) atau ekspektatif (menunda persalinan sampai maksimum 12 jam).
Penatalaksanaan ekspektatif :
1. Tirah baring
2. Pemberian antibiotika spektrum luas
3. Observasi tanda inpartu dan keadaan ibu dan anak
4. Bila selama 12 jam tak ada tanda-tanda inpartu dan keadaan umum ibu dan anak baik maka dapat dilakukan terminasi kehamilan
5. Bila selama masa observasi terdapat :
1. a. Suhu rektal > 37.60C
2. b. Gawat ibu atau gawat janin
6. Maka kehamilan harus segera diakhiri
Penatalaksanaan aktif :
Kehamilan segera diakhiri dengan cara yang sesuai dengan indikasi dan kontraindikasi yang ada.
Baik pada penatalaksanaan aktif atau ekspektatif, harus diberikan antibiotika spektrum luas untuk mencegah terjadinya amnionitis.
C. Kehamilan preterm tanpa amnionitis
Prinsip penatalaksanaan tidak berbeda dengan penatalaksanaan pada kehamilan aterm tanpa amnionitis. Perbedaan terutama pada antisipasi terhadap resiko chorioamnionitis yang lebih tinggi.
Pada kehamilan > 34 minggu, penatalaksanaan sama dengan penatalaksanaan pada kehamilan aterm tanpa amnionitis.
Pada kehamilan kurang dari 24 minggu, resiko pecahnya ketuban dini terhadap ibu sangat tinggi. Pada usia kehamilan ini, pemberian steroid, tokolitik dan antibiotika tidak memberi manfaat bagi janin. Penatalaksanaan kasus seperti ini dapat secara aktif atau ekspektatif (poliklinis) dengan pengawasan dan informasi pada pasien yang baik dan sepenuhnya tergantung dari kehendak pasien dengan memperhitungkan segala resiko terhadap ibu dan anak.
Pada kehamilan antara 24 – 32 minggu, sejumlah intervensi klinik sepertinya dapat memperpanjang masa kehamilan dan memperbaiki out come.
Setelah diagnosa KPD ditegakkan maka dapat dilakukan pemberian:
1. Antibiotika
Tak seperti halnya pada persalinan preterm tanpa KPD, pemberian antibiotika spektrum luas pada kasus KPD pada kehamilan preterm nampaknya memberikan dampak yang baik dalam hal memperpanjang usia kehamilan dan perbaikan outcome neonatal.
2. Kortikosteroid
Banyak ahli yang memberikan rekomendasi penggunaan kortikosteroid pada kasus KPD preterm > 32 minggu dengan syarat tidak terdapat tanda amnionitis.
Pada populasi yang diteliti terlihat adanya manfaat yang bermakna dari pemberian kortikosteroid dalam penurunan angka kejadian RDS-respiratory distress syndrome, Necrotizing Enterocolitis danperdarahan intraventricular .
3. Tokolitik
Belum ada penelitian yang menunjukkan bahwa penggunaan tokolitik saja dapat memperbaiki out come perinatal.
Pada umumnya pemberian tokolitik pada kasus Preterm KPD dibatasi selama 48 jam hanya untuk memberikan kesempatan bagi pemberian kortikosteroid dan antibiotika.
D. Penatalaksanaan pasien secara poliklinis
Terhadap pasien preterm KPD dengan usia kehamilan kurang dari 32 minggu yang masih tetap tidak menunjukkan tanda-tanda inpartu selama masa observasi, air ketuban sudah tak keluar lagi dan tidak terdapat tanda oligohidramnion, ibu tidak menderita demam dan tak terdapat tanda-tanda iritabilitas uterus dimungkinkan untuk keluar rumah sakit (perawatan poliklinik) dengan advis khusus dan persetujuan pasien.
Status pasien tersebut adalah sebagai pasien poliklinik dengan pengamatan sangat ketat.
Di rumah, pasien diminta untuk istirahat total, tidak bersetubuh dan mencatat suhu rektal setiap 6 jam dan datang ke RS bila terdapat tanda-tanda amnionitis
Setiap minggu pasien datang untuk perawatan antenatal dan dilakukan pemeriksaan suhu tubuh, non stress test setelah kehamialn 28 minggu, penilaian ultrasonografi untuk melihat pertumbuhan janin dan AFI- amniotic fluid index
Permasalahan : apakah jenis penatalaksanaan pasien seperti diatas tidak memberikan resiko yang sangat tinggi terhadap ibu dan anak, mengingat bahwa pengamatan poliklinis tidak mudah untuk dilaksanakan oleh pasien khususnya untuk golongan sosial ekonomi rendah.
RUJUKAN
1. Asrat T et al: Rate of recurrence of preterm rupture of the membranes in consecutive pregnancies. Am J Obstet Gynecol 165,1111-1115, 1991
2. American College Of Obstetrician and Gynecologist : Perinatal care at the treshold of viability. Practice Bulletin No.38 September 2002
3. Bullard I, Vermillion S, Soper D: Clinical intraamniotic infection and the outcome for very low birth weight neonates [abstract] Am J Obstet Gynecol 187;S73, 2002
4. Cunningham FG et al : Preterm Labor in “ Williams Obstetrics”, 22nd ed, McGraw-Hill, 2005
5. DeCherney AH. Nathan L : Late Pregnancy Complication inCurrent Obstetrics and Gynecologic Diagnosis and Treatment , McGraw Hill Companies, 2003
6. Lewis DF, Adair CD, Robichaux A et al: Antibiotic therapy in preterm rupture of membranes : Are seven days necessary ? A preliminary, randomized clinical trial. Am J Obstet Gynecol 188;1413, 2003
Minggu, 02 Juni 2013
PROMOSI KESEHATAN PADA IBU BERSALIN
A. Definisi Promosi Kesehatan
Dilihat secara konsep promosi kesehatan adalah upaya untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat,agar melaksanakan prilaku hidup sehat. Sedangkan secara operasional pendidikan kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan dan atau meningkatkan pengetahuan, sikap, san praktek masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Promosi kesehatan pada ibu bersalin untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi ibu yang akan menghadapi persalinan agar terwujud derajad kesehatan yang optimal.Diharapkan dengan penyuluhan dan informasi dari bidan dapat membuat ibu bersalin dapat menjalani persalinannya dengan tenang.
Peristiwa kelahiran bukan hanya merupakan proses murni fisiologis belaka, akan tetapi banyak pula diwarnai dengan komponen-komponen fisiologis. Tetapi ada perbedaan yang dialami oleh ibu yang satu dengan yang lainnya. Pengalaman di masyarakat, ada ibu-ibu yang sangat muda melahirkan bayinya, dan ada juga ibu-ibu yang sangat suka melahirkan bayinya, yang kadang-kadang sampai mengalami keadaan abnormal seperti operasi. Untuk itulah perlu dilakukannya promosi kesehatan pada ibu bersalin yaitu untuk mengantisipasi perasaan cemas pada ibu dalam menghadapi persalinan.
B. Perubahan Fisiologis Pada Ibu Melahirkan
Semakin meningkat umur kehamilan, ibu semakin merasakan pergerakan-pergerakan bayi. Perut ibu semakin besar, pergerakan ibu semakin tidak bebas, ibu merasakan tidak nyaman. Kadang-kadang ibu mengalami gangguan kencing, kaki bengkak. Kondisi-kondisi otot –otot apnggul dan otot–otot jalan lahir mngalami pemekaran.
Keluarnya bayi itu sebagian besar disebabkan oleh kekuatan-kekuatan kontraksi otot, dan sebagian lagi oleh tekanan dari perut. Kontraksi dari otot-otot uterus dan pelontaran bayi keluar amat dipengaaruhi oleh: Sistem saraf simpatis, parasimpatis dan saraf lokal pada otot uterus.
C. Perubahan Psikologis
Pada minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran bayinya, ibu banyak di pengaruhi oleh perasaan-perasaan/ emosi-emosi dan ketegangan. Ibu merasa cemas apakah bayinya dapat lahir lancar, sehat atau cacat. Ibu juga amat bahagia menyongsong kelahiran bayinya yang di idam-idamkannya.
Disamping itu ibu merasakan takut terhadap darah, takut sakit, takut terjadi gangguan waktu melahirkan, bahkan takut mati. Kecemasan ayah juga tidak boleh diabaikan. Kecemasan ayah hampir sama besarnya dengan kecemasan ibu yang melahirkan, hanya berbeda sang ayah tidak secara langsung merasakan efeknya dari kehamilan.
D. Tanda-Tanda Permulaan Persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki ”bulannya”atau ”minggunya” atau ”harinya” yang di sebut kala pendahuluan (prepatory stage of labord). Ini memberikan tanda-tanda sebagai berikut :
Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu terlihat.
Perut kelihatan lebih melebar,fundus uteri turun.
Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus kadang-kadang di sebut ”false labor pains”.
Serviks menjadi lembek,mulai mendatar dan setresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show).
E. Tanda-Tanda In-Partu
Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat sering dan teratur.Keluarnya lendir bercampur darah yang labih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.Seperti telah di kemukakan terdahulu,faktor-faktor yang berperan dalam persalinan adalah :
Kekuatan mendorong janin keluar (power) :
Ø His (kontraksi uterus)
Ø Kontraksi otot-otot dinding perut
Ø Kontraksi diafragma
Ø Faktor janin
Ø Faktor jalan lahir
F. Persiapan Persalinan
Beritahu ibu mengenai persiapan persalinan meliputi : biaya persalinan,rencana tempat bersalin (di bidan atau rumah sakit),siapa yang akan menolong (bidan,dokter spesialis kandungan),sarana transportasi. dipersiapkan juga satu buah tas yang berisi perlengkapan bayi seperti : popok,baju bayi,minyak telon,kayu putih,talk,selimut,selendang,dan perlengkapan untuk ibu seperti :baju ganti,pakaian dalam,pembalut,kain panjang,dll.
G. Pelaksanan Komunikasi Pada Ibu Melahirkan
Melihat berbagai bentuk kecemasan yang muncul pada ibu yang akan melahirkan dan juga pada suami yang menunggunya maka orientassi pelayanan bukan hanya ditujukan pada sang ibu juga sekaligus iatan-kegiatan kepada sang suami. Ibu di tuntun untuk melakukan kegiatan yang menunjang proses pelontaran/ kelahiran bayi. dalam kelahiran normal ada dua faktor yang harus dipertimbangkan yaitu: Status resiko kehamilan dan kemajuan persalinan dan pelahiran.
H. Tujuan Perawatan Dalam Kelahiran Normal, Tugas Pemberi Perawatan
Tujuan perawatan adalah mendapatkan ibu dan anak yang sehat dengan tingkat intervensi sedikit mungkin yang memperhatikan keselamatan. Pendekatan ini menyiratkan bahwa dalam kelahiran normal, harus ada alasan yang sahih jika akan mencampuri proses alami. Ada empat tugas pemberi perawata yaitu:
1. Mendukung wanita, pasangannya, dan keluarga selama persalinan, saat ia melahirkan dan pada periode selanjutnya.
2. Mengobservasi wanita yang bersalin, memantau kondisi janin dan kondisi bayi setelah lahir, mengkaji faktor resiko, mendeteksi masalah sedini mungkin.
3. Melakukan intervensi minor jika diperlukan, seperti amniotomi, dan episiotomi, perawatan bayi baru lahir.
4. Merujuk ke tingkat perawatan yang lebih tinggi jika faktor resiko menjadi jelas atau terjadi komplikasi yang memperkuat perujukan.
I. Promosi kesehatan pada ibu melahirkan meliputi beberapa aspek yaitu:
1. Mengkaji Kesejahteraan Wanita Selama Persalinan
Ketika awitan persalinan spontan, biasanya wanita tersebutlah yang memulai perawatan, baik dengan meminta penolong kelahiran datang atau dengan melakukan atau dengan melakukan persiapan ke fasilitas kesehatan. Tanggung jawab penolong persalinan untuk mengkaji perawatan yang paling tepat pada awal persalinan telah dibicarakan dan pentingnya pemberian dukungan sepanjang persalinan. Di manapun kelahiran terjadi, terbinanya hubungan yang baik antara wanita dan pemberi perawatan sangat penting baik mereka pernah atau belum bertemu sebelumnya. Kualitas penerimaan yang di tawarkan kepada wanita yang mencari perawatan institusi akan sangat menentukan tingkat kepercayaan yang di berikan oleh wanita tersebut dan keluarganya kepada pemberi perawatan.
Selama perasalinan dan melahirkan, kesejahteraan fisik dan emosional wanita harus di kaji secara teratur, meliputi pengukuran suhu, nadi, dan tekanan darah, memeriksa asupan cairan dan haluaran urine, mengkaji nyeri dan kebutuhan akan dukungan. Pemantauan ini harus di pertahankan sampai proses kelahiran berakhir.
Pengkajian kesejahteraan wanita juga di lakukan dengan memperhatikan privasi selama persalinan, menghormati orang yang di pilih untuk menyertainya, dan menghindari kehadiran orang yang tidak perlu dalam ruang bersalin.
2. Prosedur Rutin
Persiapan kelahiran saat masuk rumah sakit atau pusat kesehatan sering kali meliputi beberapa prosedur “ rutin “. Seperti mengukur suhu, nadi dan tekanan darah, enema dan di ikuti dengan mencukur semua atau sebagian rambut pubis. Prosedur rutin ini tidak boleh di hilangkan meskipun hal tersebut harus di perkenalkan dan di jelaskan kepada wanita dan pasangannya karena untuk mencegah aatau mendeteksi secara dini komplikasi yang kemungkinan dapat terjadi.
3. Nutrisi
Nutrisi adalah subjek yang sangat penting dan pada saat yang sama sangat bervariasi. Pendekatan yang tepat tampaknya tidak menghambat keinginan wanita untuk makan dan minum selama persalinan dan melahirkan., karena dalam kelahiran normal harus ada alasan yang shahih jika ingin mencampuri proses alami. Namun sangat ketakutan yang sangat sulit lenyap dan rutinitas di seluruh dunia, yang masing-masing membutuhkan penanganan dengan cara berbeda. Dengan dilakukan promosi kesehatan tentang niutrisi pada ibu bersalin inilah di harapkan akan mampu mengurangi rutinitas pemenuhan nutrisi dengan ketakutan makan makanan tertentu.
4. Tempat Melahirkan
Praktik persalinan dirumah dibantu yang benar memerlukan beberapa persiapan yang esensial. Penolong persalinan harus memastikan bahwa tersedia air bersih dan ruangan untuk tempat melahirkan yang hangat. Mencuci tangan harus di lakukan dengan cermat. Pakaian atau handuk hangat harus di siapkan untuk membungkus bayi agar tetap hangat. Jadi paling tidak harus ada beberapa bentuk peralatan melahirkan yang bersih sesuai rekomendasi WHO, yang bertujuan menciprkan lapangan persalinan sebersih mungkin dan memberi perawatan tali pusat yang adekuat.
5. Nyeri Persalinan
Hampir semua wanita mengalami nyeri selama persalinan, tetapi respon setiap wanita terhadap nyeri persalinan berbeda-beda. Ada beberapa metode non-invasif sekaligus non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat di gunakan selama persalinan. Banyak wanita merasa nyeri berkurang dengan mandi, sentuhan dan pijatan. Ada pula wanita yang memngatasi nyeri dengan cara relaksasi yang di lakukan secara verba, menjauhkan wanita dari nyerinya secara hipnotis, musik dan umpan balik biologis.
Semua budaya mempunyai cara masing-masing untuk membantu dan memimpin persalinan. Beberapa budaya tersebut menjelaskan kebiasaannya dengan cara sihir, yang lain mencoba memberi penjelasan yang lebih masuk akal yentang sistem yang di terapkan. Ciri umum dari metode-metode ini adalah pemberian perhatian yang intens kepada wanita selama persalinan dan melahirkan. Mengkin inilah alasan mengapa begitu banyak wanita hamil merasa metode ini nyaman dan banyak membantu. Laporan yang menyebut bahwa wanita merasa metode tersebut membuat nyaman baru merupakan hasil observasi. Meskipun wanita yang mengalami peredaan nyeri dengan metode-metode tersebut dapat di benarkan. Pelatihan dalam melakukan konseling atau promosi kesehatan dan keterampilan komunikasi interpersonal sangat penting untuk semua yang merawat wanita usia reproduktif (Kwast, 1995).
6. Memantau Janin Selama Persalinan
Memantau kesejahteraan janin adalah bagian bagian perawatan yang penting selama persalinan. Metode pilihan untuk pemantauan janin selama persalinan normal adalah auskultasi intermiten. Perawatan secara individual pada wanita melahirkan sangat esensial dan bisa dilakukan dengan lebih mudah melalui kontak pribadi saat melakukan auskultasi secara teratur. Hanya pada wanita dengan peningkatan resiko mesalnya pada persalinan yang diinduksi atau diaugmentasi, komplikasi oleh cairan amnion yang tercemar oleh mekonium, atau oleh faktor resiko lain. Maka pemantauan elktronik dan dan konseling menjadi bermanfaat.
7. Kebersihan
Di manapun proses persalinan dan melahirkan ditangani, kebersihan adalah kebutuhan yang paling penting dan utama. Sterilisasi yang biasa di gunakan di kamar operasi tidak diperlukan tetapi kuku harus pendek dan bersih serta tangan harus di cuci dengan air sabun secara cermat. Beberapa tindakan harus diambil selama persalinan untuk mencegah kemungkinan infeksi pada wanita dan atau penolong persalinan. Tindakan ini meliputi penghindaran kontak langsung dengan darah dan cairan tubuh lain, penggunaan sarung tangan selama pemeriksaan vagina, selama pelahiran bayi, dan dalam penanganan plasenta. Penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi dengan mempertahankan teknik invasif misalnya episiotomi seminimal mungkin dan jika melakukan perawatan tambahan, setelah digunakan instrumen yang tajam di buang
A. Definisi Promosi Kesehatan
Dilihat secara konsep promosi kesehatan adalah upaya untuk mempengaruhi atau mengajak orang lain baik individu, kelompok atau masyarakat,agar melaksanakan prilaku hidup sehat. Sedangkan secara operasional pendidikan kesehatan adalah semua kegiatan untuk memberikan dan atau meningkatkan pengetahuan, sikap, san praktek masyarakat dalam memelihara dan meningkatkan kesehatan mereka sendiri.
Promosi kesehatan pada ibu bersalin untuk meningkatkan kesadaran dan kemampuan hidup sehat bagi ibu yang akan menghadapi persalinan agar terwujud derajad kesehatan yang optimal.Diharapkan dengan penyuluhan dan informasi dari bidan dapat membuat ibu bersalin dapat menjalani persalinannya dengan tenang.
Peristiwa kelahiran bukan hanya merupakan proses murni fisiologis belaka, akan tetapi banyak pula diwarnai dengan komponen-komponen fisiologis. Tetapi ada perbedaan yang dialami oleh ibu yang satu dengan yang lainnya. Pengalaman di masyarakat, ada ibu-ibu yang sangat muda melahirkan bayinya, dan ada juga ibu-ibu yang sangat suka melahirkan bayinya, yang kadang-kadang sampai mengalami keadaan abnormal seperti operasi. Untuk itulah perlu dilakukannya promosi kesehatan pada ibu bersalin yaitu untuk mengantisipasi perasaan cemas pada ibu dalam menghadapi persalinan.
B. Perubahan Fisiologis Pada Ibu Melahirkan
Semakin meningkat umur kehamilan, ibu semakin merasakan pergerakan-pergerakan bayi. Perut ibu semakin besar, pergerakan ibu semakin tidak bebas, ibu merasakan tidak nyaman. Kadang-kadang ibu mengalami gangguan kencing, kaki bengkak. Kondisi-kondisi otot –otot apnggul dan otot–otot jalan lahir mngalami pemekaran.
Keluarnya bayi itu sebagian besar disebabkan oleh kekuatan-kekuatan kontraksi otot, dan sebagian lagi oleh tekanan dari perut. Kontraksi dari otot-otot uterus dan pelontaran bayi keluar amat dipengaaruhi oleh: Sistem saraf simpatis, parasimpatis dan saraf lokal pada otot uterus.
C. Perubahan Psikologis
Pada minggu-minggu terakhir menjelang kelahiran bayinya, ibu banyak di pengaruhi oleh perasaan-perasaan/ emosi-emosi dan ketegangan. Ibu merasa cemas apakah bayinya dapat lahir lancar, sehat atau cacat. Ibu juga amat bahagia menyongsong kelahiran bayinya yang di idam-idamkannya.
Disamping itu ibu merasakan takut terhadap darah, takut sakit, takut terjadi gangguan waktu melahirkan, bahkan takut mati. Kecemasan ayah juga tidak boleh diabaikan. Kecemasan ayah hampir sama besarnya dengan kecemasan ibu yang melahirkan, hanya berbeda sang ayah tidak secara langsung merasakan efeknya dari kehamilan.
D. Tanda-Tanda Permulaan Persalinan
Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki ”bulannya”atau ”minggunya” atau ”harinya” yang di sebut kala pendahuluan (prepatory stage of labord). Ini memberikan tanda-tanda sebagai berikut :
Lightening atau settling atau dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul terutama pada primigravida. Pada multipara tidak begitu terlihat.
Perut kelihatan lebih melebar,fundus uteri turun.
Perasaan sering-sering atau susah kencing (polakisuria) karena kandung kemih tertekan oleh bagian terbawah janin.
Perasaan sakit di perut dan di pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus kadang-kadang di sebut ”false labor pains”.
Serviks menjadi lembek,mulai mendatar dan setresinya bertambah bisa bercampur darah (bloody show).
E. Tanda-Tanda In-Partu
Rasa sakit oleh adanya his yang datang lebih kuat sering dan teratur.Keluarnya lendir bercampur darah yang labih banyak karena robekan-robekan kecil pada serviks.Kadang-kadang ketuban pecah dengan sendirinya.Pada pemeriksaan dalam : serviks mendatar dan pembukaan telah ada.Seperti telah di kemukakan terdahulu,faktor-faktor yang berperan dalam persalinan adalah :
Kekuatan mendorong janin keluar (power) :
Ø His (kontraksi uterus)
Ø Kontraksi otot-otot dinding perut
Ø Kontraksi diafragma
Ø Faktor janin
Ø Faktor jalan lahir
F. Persiapan Persalinan
Beritahu ibu mengenai persiapan persalinan meliputi : biaya persalinan,rencana tempat bersalin (di bidan atau rumah sakit),siapa yang akan menolong (bidan,dokter spesialis kandungan),sarana transportasi. dipersiapkan juga satu buah tas yang berisi perlengkapan bayi seperti : popok,baju bayi,minyak telon,kayu putih,talk,selimut,selendang,dan perlengkapan untuk ibu seperti :baju ganti,pakaian dalam,pembalut,kain panjang,dll.
G. Pelaksanan Komunikasi Pada Ibu Melahirkan
Melihat berbagai bentuk kecemasan yang muncul pada ibu yang akan melahirkan dan juga pada suami yang menunggunya maka orientassi pelayanan bukan hanya ditujukan pada sang ibu juga sekaligus iatan-kegiatan kepada sang suami. Ibu di tuntun untuk melakukan kegiatan yang menunjang proses pelontaran/ kelahiran bayi. dalam kelahiran normal ada dua faktor yang harus dipertimbangkan yaitu: Status resiko kehamilan dan kemajuan persalinan dan pelahiran.
H. Tujuan Perawatan Dalam Kelahiran Normal, Tugas Pemberi Perawatan
Tujuan perawatan adalah mendapatkan ibu dan anak yang sehat dengan tingkat intervensi sedikit mungkin yang memperhatikan keselamatan. Pendekatan ini menyiratkan bahwa dalam kelahiran normal, harus ada alasan yang sahih jika akan mencampuri proses alami. Ada empat tugas pemberi perawata yaitu:
1. Mendukung wanita, pasangannya, dan keluarga selama persalinan, saat ia melahirkan dan pada periode selanjutnya.
2. Mengobservasi wanita yang bersalin, memantau kondisi janin dan kondisi bayi setelah lahir, mengkaji faktor resiko, mendeteksi masalah sedini mungkin.
3. Melakukan intervensi minor jika diperlukan, seperti amniotomi, dan episiotomi, perawatan bayi baru lahir.
4. Merujuk ke tingkat perawatan yang lebih tinggi jika faktor resiko menjadi jelas atau terjadi komplikasi yang memperkuat perujukan.
I. Promosi kesehatan pada ibu melahirkan meliputi beberapa aspek yaitu:
1. Mengkaji Kesejahteraan Wanita Selama Persalinan
Ketika awitan persalinan spontan, biasanya wanita tersebutlah yang memulai perawatan, baik dengan meminta penolong kelahiran datang atau dengan melakukan atau dengan melakukan persiapan ke fasilitas kesehatan. Tanggung jawab penolong persalinan untuk mengkaji perawatan yang paling tepat pada awal persalinan telah dibicarakan dan pentingnya pemberian dukungan sepanjang persalinan. Di manapun kelahiran terjadi, terbinanya hubungan yang baik antara wanita dan pemberi perawatan sangat penting baik mereka pernah atau belum bertemu sebelumnya. Kualitas penerimaan yang di tawarkan kepada wanita yang mencari perawatan institusi akan sangat menentukan tingkat kepercayaan yang di berikan oleh wanita tersebut dan keluarganya kepada pemberi perawatan.
Selama perasalinan dan melahirkan, kesejahteraan fisik dan emosional wanita harus di kaji secara teratur, meliputi pengukuran suhu, nadi, dan tekanan darah, memeriksa asupan cairan dan haluaran urine, mengkaji nyeri dan kebutuhan akan dukungan. Pemantauan ini harus di pertahankan sampai proses kelahiran berakhir.
Pengkajian kesejahteraan wanita juga di lakukan dengan memperhatikan privasi selama persalinan, menghormati orang yang di pilih untuk menyertainya, dan menghindari kehadiran orang yang tidak perlu dalam ruang bersalin.
2. Prosedur Rutin
Persiapan kelahiran saat masuk rumah sakit atau pusat kesehatan sering kali meliputi beberapa prosedur “ rutin “. Seperti mengukur suhu, nadi dan tekanan darah, enema dan di ikuti dengan mencukur semua atau sebagian rambut pubis. Prosedur rutin ini tidak boleh di hilangkan meskipun hal tersebut harus di perkenalkan dan di jelaskan kepada wanita dan pasangannya karena untuk mencegah aatau mendeteksi secara dini komplikasi yang kemungkinan dapat terjadi.
3. Nutrisi
Nutrisi adalah subjek yang sangat penting dan pada saat yang sama sangat bervariasi. Pendekatan yang tepat tampaknya tidak menghambat keinginan wanita untuk makan dan minum selama persalinan dan melahirkan., karena dalam kelahiran normal harus ada alasan yang shahih jika ingin mencampuri proses alami. Namun sangat ketakutan yang sangat sulit lenyap dan rutinitas di seluruh dunia, yang masing-masing membutuhkan penanganan dengan cara berbeda. Dengan dilakukan promosi kesehatan tentang niutrisi pada ibu bersalin inilah di harapkan akan mampu mengurangi rutinitas pemenuhan nutrisi dengan ketakutan makan makanan tertentu.
4. Tempat Melahirkan
Praktik persalinan dirumah dibantu yang benar memerlukan beberapa persiapan yang esensial. Penolong persalinan harus memastikan bahwa tersedia air bersih dan ruangan untuk tempat melahirkan yang hangat. Mencuci tangan harus di lakukan dengan cermat. Pakaian atau handuk hangat harus di siapkan untuk membungkus bayi agar tetap hangat. Jadi paling tidak harus ada beberapa bentuk peralatan melahirkan yang bersih sesuai rekomendasi WHO, yang bertujuan menciprkan lapangan persalinan sebersih mungkin dan memberi perawatan tali pusat yang adekuat.
5. Nyeri Persalinan
Hampir semua wanita mengalami nyeri selama persalinan, tetapi respon setiap wanita terhadap nyeri persalinan berbeda-beda. Ada beberapa metode non-invasif sekaligus non-farmakologis untuk mengurangi rasa nyeri yang dapat di gunakan selama persalinan. Banyak wanita merasa nyeri berkurang dengan mandi, sentuhan dan pijatan. Ada pula wanita yang memngatasi nyeri dengan cara relaksasi yang di lakukan secara verba, menjauhkan wanita dari nyerinya secara hipnotis, musik dan umpan balik biologis.
Semua budaya mempunyai cara masing-masing untuk membantu dan memimpin persalinan. Beberapa budaya tersebut menjelaskan kebiasaannya dengan cara sihir, yang lain mencoba memberi penjelasan yang lebih masuk akal yentang sistem yang di terapkan. Ciri umum dari metode-metode ini adalah pemberian perhatian yang intens kepada wanita selama persalinan dan melahirkan. Mengkin inilah alasan mengapa begitu banyak wanita hamil merasa metode ini nyaman dan banyak membantu. Laporan yang menyebut bahwa wanita merasa metode tersebut membuat nyaman baru merupakan hasil observasi. Meskipun wanita yang mengalami peredaan nyeri dengan metode-metode tersebut dapat di benarkan. Pelatihan dalam melakukan konseling atau promosi kesehatan dan keterampilan komunikasi interpersonal sangat penting untuk semua yang merawat wanita usia reproduktif (Kwast, 1995).
6. Memantau Janin Selama Persalinan
Memantau kesejahteraan janin adalah bagian bagian perawatan yang penting selama persalinan. Metode pilihan untuk pemantauan janin selama persalinan normal adalah auskultasi intermiten. Perawatan secara individual pada wanita melahirkan sangat esensial dan bisa dilakukan dengan lebih mudah melalui kontak pribadi saat melakukan auskultasi secara teratur. Hanya pada wanita dengan peningkatan resiko mesalnya pada persalinan yang diinduksi atau diaugmentasi, komplikasi oleh cairan amnion yang tercemar oleh mekonium, atau oleh faktor resiko lain. Maka pemantauan elktronik dan dan konseling menjadi bermanfaat.
7. Kebersihan
Di manapun proses persalinan dan melahirkan ditangani, kebersihan adalah kebutuhan yang paling penting dan utama. Sterilisasi yang biasa di gunakan di kamar operasi tidak diperlukan tetapi kuku harus pendek dan bersih serta tangan harus di cuci dengan air sabun secara cermat. Beberapa tindakan harus diambil selama persalinan untuk mencegah kemungkinan infeksi pada wanita dan atau penolong persalinan. Tindakan ini meliputi penghindaran kontak langsung dengan darah dan cairan tubuh lain, penggunaan sarung tangan selama pemeriksaan vagina, selama pelahiran bayi, dan dalam penanganan plasenta. Penting untuk mengurangi kemungkinan terjadinya infeksi dengan mempertahankan teknik invasif misalnya episiotomi seminimal mungkin dan jika melakukan perawatan tambahan, setelah digunakan instrumen yang tajam di buang
Selasa, 15 Januari 2013
Curhatkuu pada Tuhan :'(
Ingin aku menangis... tapi akhirnya aku tertawa.
ingin aku tertawa... tapi akhirnya aku menangis.
Kamu sakitiku, aku sakiti dia.
kenapa cinta ini begitu susah untuk disatukan dan dimengerti???
Ada seseorang... bukan, beberapa orang yang begitu menyayangiku dengan setulus hati.
Kenapa aku ragu? Kenapa aku berpaling pada seseorang yang hanya sakitiku?
Kenapa...
Pertanyaan yang begitu susah dijawab.
aku bersyukur disaat aku jatuh, Tuhan selalu berikan orang yang menemaniku diketerpurukanku. membantuku untuk bangkit dan berdiri bahkan orang-orang yang tak ku sangka begitu peduli padaku. Tuhan tak pernah tinggalkan aku. Tuhan selalu ada di sampingku.
Tuhan menjauhkan dia dariku, Tuhan membuat kamu pergi dariku, dan Tuhan menyediakan seseorang untuk menemaniku.
Haruskah aku tersenyum?
Haruskah aku menangis?
menangis... Menangisi siapa? Ditangisi siapa?
Seseorang berkata padaku,"Silahkan kamu menangisi dia, tapi coba pikir apakah dia menangisi kamu?" Yaa... BENAR!!!
Belum tentu dia menangisi aku, jadi buat apa aku menangisi dia? Tapi hati in i terlalu sakit. apakah ini karma karena aku menyakiti seseorang yang tulus sayang padaku? Kalau begitu pasti akan banyak karma-karma lain yang menimpaku karena aku tahu, aku menyakiti banyak hati.
Tuhan...
Kau biarkan dia menyakitiku disaat aku benar-benar membutuhkan dia.
Apa arti ini semua?
Apa KAU ingin menguji ketegaranku dalam menghadapi kehidupan ini?
Tuhan...
Aku benar-benar membutuhkan dia.
TApi yaa sudahlah... Aku tahu KAU pasti punya rencana indah untukku.
Mungkin dia bukan yang terbaik untukku.
Aku yakin KAU pasti memberikan pasangan yang sepadan untukku.
Tuhan...
Maafkan aku yang selalu datang padaMu saat aku terjatuh, saat aku terpuruk.
mungkin aku jarang bersyukur dan datang padaMu.
Tuhan...
hanya padaMu aku bisa mencurahkan segala kegundahan dihati ini.
Rasa sakitku...
Rasa kecewaku...
Rasa sedihku...
Tuhan...
Aku begitu menyayanginya. walaupun dia bukan untuku, berikan yang terbaik untuknya.
yang bisa menerima dia bagaimanapun kondisinya.
Berikan dia kesembuhan Tuhan... Harapan terbesarku adalah bisa melihat dia berlari, melaksanakan tugasnya dengan berani sebagai Abdi Negara.
Tuhan...
Berikan juga yang terbaik untukku. Orang yang tulus mencintaiku dan membuatku bisa merasa berarti hidup di dunia ini. Yang bisa membimbingku dalam melangkah. Yang bisa mebuatku tersenyum dalam tangisku. Orang yang mengerti bahwa hidupku adalah melayani masyarakat. Melayani calon ibu dan juga ibu yang sangat menantikan buah hatinya melihat dunia.
Tuhan...
Ku serahkan hidupku padaMu.
Apapun nanti cobaan yang Kau berikan, semoga aku sanggup menghadaoinya.
Tuhan...
Aku bersyukur karena Kau tak pernah membiarkan aku sendiri. Kau selalu sediakan orang-orang hebat yang mebuat aku hebat. Kau sediakan orang-orang kuat yang mebuat aku kuat. Tuhan, Aku mencintaiMu. Tak akan pernah berpaling dariMu. Ini janjiku!!!
HIPERTENSI DALAM KEHAMILAN, PREEKLAMSIA dan EKLAMSIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Ada banyak kasus dimana wanita hamil dengan hipertensi mampu menjaga kehamilan sampai dengan kelahiran dengan selamat. Dengan bantuan medis selama kehamilan, komplikasi selama kehamilan dapat dicegah. Bagaimanapun juga, hipertensi selama kehamilan selalu dibutuhkan perhatian khusus. Wanita hamil yang menderita hipertensi dimulai sebelum hamil, memiliki kemungkinan komplikasi pada kehamilannya lebih besar dibandingkan dengan wanita hamil yang menderita hipertensi ketika sudah hamil. Karena beberapa wanita hamil memiliki kemungkinan menderita hipertensi selama kehamilan karena beberapa factor.
Banyak akibat yang bisa ditimbulkan oleh hipertensi. Resiko terbesar hipertensi pada wanita hamil adalah kerusakan pada ginjal. Pada kasus yang lebih serius, ibu bisa menderita preeclampsia atau keracunan pada kehamilan, yang akan sangat membahayakan baik baik ibu maupun bagi janin. Selain itu hipertensi bisa menyebabkan kerusakan pembuluh darah, stroke, dan gagal jantung di kemudian hari.
Hipertensi merupakan problema yang paling sering terjadi pada kehamilan. Bahkan,kelainan hipertensi pada kehamilan beresiko terhadap kematian janin dan ibu. Karena itu,deteksi dini terhadap hipertensi pada ibu hamil diperlukan agar tidak menimbulkan kelainan serius dan menganggu kehidupan serta kesehatan janin di dalam rahim.
B. Rumusan Masalah
• Apa saja klasifikasi hipertensi dalam kehamilan?
• Faktor resiko terjadinya preeklamsia
• Penanganan hipertensi, preeklamsia dan eklamsia pada kehamilan
• Tanda bahaya preeklamsia
• Asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan preeklamsia
C. Tujuan
Untuk memenuhi tugas ASKEB IV (Patologi Kebidanan) dan juga menambah pengetahuan serta wwawasan mahasiswa dalam penanganan kasus hipertensi dalam kehamilan, juga agar mahasiswa dapat memberikan asuhan kebidanan yang bermutu dan tepat guna bagi pasien.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
GANGGUAN HIPERTENSI PADA KEHAMILAN
Hipertensi selama kehamilan tidak seperti hipertensi yang terjadi pada umumnya, tetapi mempunyai kaitan erat dengan angka kesakitan dan kematian yang tinggi baik pada janin maupun pada ibu. Komplikasi yang umum terjadi pada ibu adalah abrupsio plasenta, disseminated intravascular coagulation, perdarahan otak, gagal hati, dan gagal ginjal akut. Janin mempunyai resiko IUGR, premature dan kematian.
1. Hipertensi Kronis
a. Hipertensi dikatakan kronis jika muncul sebelum kehamilan atau pada usia kehamilan di bawah 20 minggu
b. Tekanan darah sistolik >140 mmhg dan diastolic >90 mmhg
c. Apabila hipertensi didiagnosis selama kehamilan tetapi tidak kunjung menurun hingga pasca partum.
2. Preeklamsia adalah sekumpulan gejala secara spesifik hanya muncul selama kehamilan dengan usia >20 minggu ( kecuali pada penyakit trofoblastik ) dan dapat didiagnosis dengan criteria berikut :
a. Ada peningkatan tekanan darah selama kehamilan (sistol >140mmhg atau diastole >90 mmhg), yang sebelumnya normal disertai proteinuria (>0,3 gram protein selama 24 jam atau >30 mg/dl dengan hasil reagen urine lebih dari 1+)
b. Apabila hipertensi dalam kehamilan muncul tanpa proteinuria perlu dicurigai adanya preeklamsia seiring kemajuan kehamilan, jika muncul gejala nyeri kepala, gangguan penglihatan, nyeri pada abdomen, nilai trombosit rendah dan kadar enzim ginjal abnormal.
3. Preeklamsia Berat
a. Tekanan darah sistol >160 mmhg atau diastolic >110 mmhg
b. Proteinuria (>2,0 g dalam 24 jam dengan reagen 2+ atau 3+) muncul pertama kali selama kehamilan dan menurun setelah persalinan
c. Penigkatan nilai serum kreatinin (>1,2 ml/dl kecuali jika peningkatan telah diketahui sebelumnya)
d. Jumlah trombosit <100.000 sel/mm3
e. Peningkatan aktifitas enzim hati (alanin aminotransferase, aspirat aminotransferase atau keduanya)
f. Gejala gangguan syaraf, nyeri kepala menetap, gangguan penglihatan
g. Nyeri ulu hati yang menetap
h. Poliguria 400 mm dalam 24 jam
4. Eklamsia
Gejala kejang, sebagai gejala preeklamsia yang telah disebutkan di atas (jika kejang tidak dapat dikaitkan dengan gejala lain)
Ada dua hal penting yang menjadi pedoman dalam mendiagnosis preeklasia klasik. Saat ini edema tidak lagi dijadikan komponen ketiga dan trilogy preeklamsi. Pada masa yang lalu hipertensin di definisikan peningkatan tekanan sistol 30 mmhg atau diastole 15 mmhg dari tekanan darah normal. Definisi ini terbukti tidak cocok untuk definisi preeklamsia. Oleh karena itu definisi hipertensi pada kehamilan telah diperbaharui sebagai peningkatan tekanan sistol >140 mmhg dan diastole >90 mmhg setelah minggu ke 20 kehamilan.
Sangat penting membedakan hipertensi kronis dari preeklamsia. Yang lebih penting lagi adalah ketika preeklamsia lebih menonjol dibanding hipertensi kronis. Hipertensi kronis menurut definisinya adalah hipertensi yang terjadi sebelum kehamilan atau sebelum usia kehamilan mencapai 12 minggu. Wanita dengan hipertensi kronis dapat diobati dengan obat antihipertensi.
FAKTOR RESIKO
Terdapat banyak faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dalam kehamilan, yang dapat dikelompokan dalam faktor resiko sebagai berikut :
1. Primigravida
2. Hiperplasentosis, misalnya : mola hidatidosa, kehamilan multiple, diabetes mellitus, hidrops fetalis, bayi besar.
3. Umur yang ekstrim (terlalu tua atau terlalu muda)
4. Riwayat keluarga pernah preeklamsia/eklamsia
5. Penyakit-penyakit ginjal dan hipertensi yang sudah ada sebelum hamil
6. Obesitas
A. HIPERTENSI
Hipertensi merupakan tanda terpenting guna menegakkan diagnosis hipertensi dalam kehamilan. Hipertensi dalam kehamilan berarti bahwa wanita telah menderita hipertensi sebelum hamil, disebut juga sebagai preeklamsia tidak murni. Wanita hamil dengan hipertensi tidak menunjukan gejala lain kecuali hipertensi. Yang paling banyak dijumpai adalah hipertensi esensial dengan tekanan darah sekitar 140/90 mmHg sampai 160/100 mmHg.
Kehamilan dengan hipertensi esensial akan berlangsung normal sampai dengan aterm. Pada kehamilan setelah 30 minggu, 30 % dari wanita hamil akan menunjukan kenaikan tekanan darah namun tanpa gejala.
PENANGANAN
• Dianjurkan mentaati pemeriksaan antenatal yang teratur dan jika perlu konsultasikan kepada ahli kandungan
• Dianjurkan cukup istirahat, menjauhi emosi, dan jangan bekerja terlalu berat
• Penambahan berat badan yang agresif harus dicegah. Dianjurkan untuk diet tinggi protein, rendah hidrat arang, rendah lemak dan rendah garam (sekarang tidak direkomendasikan lagi).
• Pengawasan terhadap janin harus lebih teliti, disamping pemeriksaan biasa, dapat dilakukan pemeriksaan monitor janin lainnya seperti elektrokardiografi fetal, ukuran biparietal (USG), penentuan kadar estriol, amnioskopi, pH darah janin, dan sebagainya.
Jika kehamilan <37 minggu, tangani secara rawat jalan :
• Pantau tekanan darah, proteinuria, dan kondisi janin setiap minggu
• Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklamsia
• Jika kondisi janin memburuk, atau terjadi pertumbuhan janin yang terhambat, rawat dan pertimbangkan untuk terminasi kehamilan.
B. PREEKLAMSIA/EKLAMSIA
Preeklamsia adalah suatu penyakit yang muncul pada awal kehamilan dan berkembang secara perlahan dan akan menunjukan gejala bila kondisi semakin memburuk.Pada wanita yang menunjukan kecendrungan preeklamsia,tetapi gejala yang muncul tidak memenuhi criteria yang ada bidan perlumelakukan pemeriksaan laboratorium ( Hemoglobin,hemotokrit,trombosit,LDH,AST,ALT).
Kondisi yang dihubungkan dengan preeklamsia adalah sebagai berikut :
1. Nuliparitas
2. Toproblastik ( 70 persen terjadi pada kasus mola hidatidosa )
3. Kehamilan kembar, tanpa memperhatikan paritas.
4. Riwayat penyakit :
a. Hipertensi kronis
b. Penyakit ginjal kronis
c. Diabetes mellitus pra-kehamilan
5. Riwayat preeklamsia atau eklamsia dalam keluarga
6. Riwayat preeklemsia sebelumnya
7. Peningkatan resiko untuk multipara yang memiliki pasangan seks yang baru
8. Etnis amerika-afrika dan asia
Tanda dan gejala preeklamsia merupakan dasar pengkajian riwayat rutin ,pemeriksaan fisik,dan pemeriksaan laboratorium yang dilakukan pada setiap kunjungan prenatal .Apabila ditemukan tanda gejala atau gejala preeklamsia,perlu dilakukan tindak lanjut.
Preeklamsia merupakan penyulit kehamilan yang akut dan dapat terjadi ante, intra dan postpartum. Dari gejala-gejala klinik preeklamsia dapat dibagi menjadi preeklamsia ringan dan preeklamsia berat.
a. Preeklamsia Ringan
Diagnosis preeklamsia ringan ditegakkan berdasar atas timbulnya hipertensi disertai proteinuria dan/atau edema setelah kehamilan 20 minggu.
- Hipertensi : sistolik/diastolic ≥ 140/90 mmHg. Kenaikan sistolik ≥ 30 mmHg dan kenaikan diastolic ≥ 15 mmHg tidak dipakai lagi sebagai criteria preeklamsia.
- Preteinuria : ≥300 mg/24 jam atau ≥ 1+
- Edema : edema local tidak dimasukkan dalam criteria preeklamsia, kecuali edema pada lengan, muka dan perut, edema generalisata.
PENANGANAN :
Jika kehamilan <37 minggu, dan tidak ada tanda-tanda perbaikan, lakukan penilaian 2 kali seminggu secara rawat jalan :
o Pantau tekanan darah, proteinuria, reflex dan kondisi janin
o Lebih banyak istirahat
o Diet biasa
o Tidak perlu diberi obat-obatan
o Jika terdapat tanda-tanda pertumbuhan janin terhambat, pertimbangkan terminasi kehamilan.
o Jika proteinuria menungkat, tangani sebagai preeklamsia berat
Jika kehamilan >37 minggu, pertimbangkan terminasi :
o Jika serviks matang, lakukan induksi dengan oksitosin 5 IU dalam 500 ml dekstrose IV 10 tetes/menit atau dengan prostaglandin.
o Jika serviks belum matang, berikan prostaglandin, misoprostol atau Kateter Foley, atau terminasi dengan SC
b. Preeklamsia Berat
Preeklamsia digolongkan dalam preeklamsia berat bila ditemukan satu atau lebih gejala berikut :
- Tekanan darah sistolik ≥ 160 mmHg dan tekanan diastolic ≥110 mmHg. Tekanan darah ini tidak menurun meskipun ibu hamil sudah dirawat di rumah sakit dan sudah menjalani tirah baring.
- Proteinuria lebih 5 g/24 jam atau 4+ dalam pemeriksaan kualitatif
- Oliguria, yaitu produksi urine kurang dari 500 cc/24 jam
- Kenaikan kadar keratin plasma
- Gangguan visus dan serebral : penurunan kesadaran, nyeri kepala dan pandangan kabur
- Nyeri epigastrium atau nyeri pada kuadran kanan atas abdomen
- Edema paru dan sianosis
- Trombositopenia berat : <100.000 sel/mm3 atau penurunan trombosit dengan cepat.
- Gangguan fungsi hepar : peningkatan kadar alanin dan aspartate aminotransfrase
- Pertumbuhan janin intrauterine terhambat
c. Eklamsia didiagnosis ketika preeklamsia berat memburuk menjadi kejang.kejang sering muncul sebelum persalinan dan berlanjut lagi higga pascapartum .pemantauan tanda gejala,mencakup nyeri kepala,gangguan penglihatan,nyeri ulu hati,atau kuadran kanan atas,dan kegelisahan,dapat menyiagakan bidan terhadap munculnya kejang.
PENANGANAN PREEKLAMSIA BERAT DAN EKLAMSIA
Penanganan preeklamsia berat dan eklamsia sama, kecuali bahwa persalinan harus berlangsung dalam 12 jam setelah timbulnya kejang pada eklamsia.
Penanganan kejang
Beri obat antikonvulsan
Perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan nafas, sedotan, masker oksigen, oksigen)
Lindungi pasien dari kemungkinan trauma
Aspirasi mulut dan tenggorokan
Baringkan pasien pada sisi kiri, posisi Trendenburg untuk mengurangi resiko aspirasi
Beri O2 4-6 liter/menit
Penanganan umum
Jika tekanan diastolic >110 mmHg, berikan antihipertensi, sampai tekanan diastolic di antara 90-100 mmHg
Pasang infuse Ringer laktat dengan jarum besar (16 gauge atau >)
Ukur keseimbangan cairan, jangan sampai overload
Kateterisasi urin untuk pengeluaran volume dan proteinuria.
Jika jumlah urin <30 ml/jam :
- Infuse cairan dipertahankan 1 1/8 jam
- Pantau kemungkinan edema paru
Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin
Observasi tanda vital, reflex, dan denyut jantung janin setiap jam.
Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru, stop pemberian cairan dan berikan diuretic misalnya furosemide 40 mg IV
Nilai pembekuan darah dengan uji pembekuan bedside. Jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit, kemungkinan terdapat koagulopati.
C. TANDA BAHAYA PASIEN PREEKLAMSIA
Rujuk segera pasien preeklamsia ke fasilitas kesehatan yang lebih lengkap apabila terdapat tanda bahaya preeklamsia seperti :
• Sakit kepala hebat
• Nyeri ulu hati
• Buta mendadak
• Proteinuria 4+
• Kejang
• Mual
• Muntah
• Nyeri perut kuadran kanan atas
• Oliguria
• Sesak napas
KEMENTERIAN KESEHATAN R. I.
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES PALANGKA RAYA
FORMAT PENGKAJIAN PADA IBU HAMIL
I. PENGKAJIAN DATA
A. IDENTITAS/BIODATA
Nama Ibu : Ny R Nama Ayah : Tn. T
Umur : 16 tahun Umur : 20 tahun
Suku/Bangsa : Banjar/Indonesia Suku/Bangsa : Banjar/Indonesia
Agama : Islam Agama : Islam
Pendidikan : SMP Pendidikan : SMA
Pekerjaan : IRT Pekerjaan : Pedagang
Alamat Rumah : Jl. Badak Alamat Rumah : Jl. Badak
B. ANAMNESA ( Data Subjektif )
Pada tanggal : 20-11-2012 Pukul : 19.00 WIB
1. Kunjungan yang ke- II
2. Alasan kunjungan/keluhan utama :
Ibu ingin memeriksakan kehamilannya/ Ibu mengeluh sering merasa sakit kepala, bengkak pada jari-jari tangan dan kadang-kadang penglihatannya kabur
3. Riwayat Psikososial
1) Kehamilan ini : ( ) Direncanakan
( x ) Tidak direncanakan
( x ) Diterima
( ) Tidak diterima
2) Perasaan tentang kehamilan ini : Senang
3) Emosional ibu saat pengkajian : ( x )stabil ( ) labil
4) Jenis kelamin yang diharapkan : ( x ) ♀ ( x ) ♂
5) Status Perkawinan : Syah
Kawin I : Umur : 16 tahun Dengan suami umur : 20 tahun
Lamanya : 0,5 tahun Anak - Orang Abortus - kali
Kawin II :
6) Perilaku Kesehatan : Merokok ( ) ya ( x ) tidak
Alkohol ( ) ya ( x ) tidak
Narkoba ( ) ya ( x ) tidak
7) Susunan keluarga / Genogram :
?
Keterangan :
□ laki-laki ■ laki-laki dgn penyakit keturunan
O perempuan ● perempuan dgn penyakit keturunan
---- tinggal serumah
4. Riwayat Obstetri
a. Riwayat haid
Haid pertama kali : 14 tahun teratur/tidak teratur
Siklus : 28 hari Lamanya : 4-6 Hari
Banyaknya : 2x ganti pembalut Sifat darah : Encer
Dismenore : ada/tidak ada
b. Riwayat kehamilan
HPHT : 07-05-2012
TP : 14-02-2012
Keluhan – keluhan :
• Trimester I : Pusing, mual kadang muntah
• Trimester II : Pusing, bengkak diwajah, tangan dan penglihatan kabur
• Trimester III : .........................................................................................
Pergerakan anak pertama kali : hamil 18 minggu
Bila pergerakan sudah terasa, pergerakan anak dalam 24 jam :
( ) kurang dari 10 kali
( x ) lebih dari 10 sampai 20 kali
( ) lebih dari 20 kali
Bila lebih dari 20 kali dalam 24 jam, dengan frekuensi :
( ) kurang dari 15 detik
( ) lebih dari 15 detik
Bila ada pergerakan keluhan yang dirasakan : Tidak ada keluhan
5. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas yang lalu :
GIP0A0
6. Riwayat KB : Tidak ada
7. Riwayat Kesehatan :
Penyakit yang pernah atau sedang diderita :
Penyakit Klien Keluarga
Jantung Tidak Ada Tidak Ada
Hipertensi Tidak Ada Ada, ayah klien
Hepar/hepatitis Tidak Ada Tidak Ada
Diabetes Mellitus Tidak Ada Tidak Ada
Anemia ringan/sedang/berat Tidak Ada Tidak Ada
PHS dan HIV/AIDS Tidak Ada Tidak Ada
Campak Tidak Ada Tidak Ada
Malaria Tidak Ada Tidak Ada
Tuberkulosis (TBC) Tidak Ada Tidak Ada
Keturunan kembar : Tidak Ada
8. Riwayat kebiasaan
a. Pola makan :
Ibu makan 3x/hari porsi sedang dengan ikan, daging, telur, sayur dan buah. Ibu minum ±8 gelas air putih, susu setiap malam sebelum tidur.
b. Pola Eliminasi :
BAB 1x/hari, konsistensi lunak, warna kuning kecoklatan
BAK 4-6x/hari, warna kuning jernih, tidak ada nyeri
c. Personal Hygiene :
Ibu mandi 2x/hari menggunakan sabun, keramas 3x/minggu, menggosok gigi sehabis makan dan sebelum tidur, mengganti pakaian dalam bila terasa lembab dan basah.
d. Pola aktivitas sehari-hari :
Ibu bekerja sebagai ibu rumah tangga, melakukan pekerjaan rumah tanggan, dan mengurus suami.
e. Pola istirahat dan tidur :
Siang ± 1 jam/hari
Malam ± 6-8 jam/hari
f. Seksualitas :
Tidak ada keluhan
g. Imunisasi : TT1 : Pernah
Tanggal :16-10-2012
TT2 :Pernah
Tanggal :17-11-2012
C. PEMERIKSAAN FISIK ( Data Objektif )
1. Tanda-tanda vital : TD = 150/90 mmhg Nadi = 80 x/menit
RR = 22 x /menit Suhu= 37 oC
2. Lingkar lengan atas : 24 cm
3. TB : 152 cm
4. BB sebelum hamil : 45 kg
5. BB sekarang : 50 kg
6. Kepala dan rambut
Warna rambut : Hitam
Distribusi : Merata
Kebersihan : Bersih
Kekuatan : Kuat
Keadaan kulit kepala : Sehat, tidak berketombe
7. Muka
Oedema : Ya
Chloasmagravidarum : Ada
8. Mata
Konjungtiva : Tidak anemis
Skelera : Tidak ikterik
Kemampuan penglihatan : Kadang-kadang kabur
9. Mulut
Gigi : Lengkap, tidak berkaries
Gusi : Tidak ada pembengkakan, tidak mudah berdarah
Mukosa Bibir : Lembab
10. Telinga
Pengeluaran : Tidak ada
Kemampuan pendengaran : Baik, ibu dapat mendengar dengan baik
11. Hidung
Pengeluaran hidung : Tidak ada
Kemampuan Penciuman : Ibu dapat mendengar dengan baik
12. Leher
Pembesaran kelenjar tiroid : Tidak ada
Pembesaran vena jagularis : Tidak ada
Pembesaran KGB : Tidak ada
13. Dada
Simetris : Ya
Pergerakan : Teratur
14. Mammae
Pengeluaran : Tidak ada
Hiperpigmentasi Aerola : Ya
Konsistensi : Lunak
Kebersihan : Bersih
Keadaan puting susu : Menonjol
15. Abdomen
Pembesaran : Sesuai usia kehamilan
Warna/Asites : Sesuai perut ibu, tidak asites
Bekas luka : Tidak ada
Linea : Nigra
Striae : Libida
Leopold I : TFU 2 jari atas pusat (Md = 27 cm)
Leopold II : Pu-Ka
Leopold III : Let-Kep
Leopold IV : belum masuk PAP
TBBJ : 2325 gram
DJJ : + 146x/menit
16. Genitalia (Vagina) (Tidak dilakukan pemeriksaan)
Oedema : …………………………………………………………………………………
Varises : …………………………………………………………………………………
Pembesaran kelenjar : …………………………………………………………………………………
Pengeluaran cairan : ………………………………………………………………………………….
Bekas episiotomy : …………………………………………………………………………………
Kemerahan : …………………………………………………………………………………
Nyeri : …………………………………………………………………………………
Tanda Chadwick : …………………………………………………………………………………
17. Anus : Hemoroid : Tidak ada
18. Tangan : Kuku : Bersih
Oedema : Ya
Kaki : Varises : Tidak ada
Oedema : Ya
Reflek Patella : +/+
19. Punggung
Lordosis : Tidak
Kiposis : Tidak
Scoliosis : Tidak
Ketuk costovertebra : -/-
20. Ukuran panggul luar (Tidak dilakukan pemeriksaan)
Distansia spinarum : …………………. Cm Conjugata eksterna : ……………… cm
Distansia kristarum : …………………. Cm Lingkar panggul : ……………… cm
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
Tanggal : ………………….
Darah : HB : 11,3 gr%
Golongan darah : O
Rhesus : +
Urine : Protein Urine : 2+
Reduksi Urine : ………………….
2. Pemeriksaan penunjang lainnya :
………………….………………….………………….………………….………………….………………….………………….………………….………………….………………….………………….………………….………………….………………….
ASUHAN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL PATOLOGI
NY. R USIA 16 TAHUN G1P0A0
DI BPS YUNITHA
I. PENGKAJIAN DATA (terlampir)
II. INTERPRETASI DATA
Diagnosa :
G1P0A0, hamil 28 minggu, janin tunggal hidup intra uterine dengan preeklamsia ringan
Data “S” :
• Ibu mengatakan ini kehamilannya yang pertama, belum pernah melahirkan, dan tidak pernah mengalami keguguran
• Ibu mengatakan HPHT 07-05-2012
• Ibu mengatakan janinnya bergerak aktif
• Ibu mengeluh sering merasa sakit kepala, bengkak pada jari-jari tangan dan kadang-kadang penglihatannya kabur
Data “O” :
• TP 14-02-2013
• Keadaan umum ibu : baik, kesadaran compos mentis
• Tanda-tanda Vital :
TD : 150/90 mmHg
R : 22 x/menit
N : 80 x/menit
S : 37 oC
• Inspeksi : dilakukan pemeriksaan head to toe dan hasilnya ada edema di ekstremitas atas
• Palpasi :
L I : TFU 2 jari atas pusat (Md = 27 cm)
L II : Pu-Ka
L III : Let-Kep
L IV : belum masuk PAP
• Auskultasi : DJJ + 146 x/menit
• Perkusi :
- Reflek Patella +/+
- Ketuk Costovertebra -/-
• TBBJ ± 2325 gram
• Pemeriksaan Penunjang :
- HB 11,3 gr% - Protein Urine 2+
- Golongan Darah O - Rhesus +
Masalah :
Bengkak pada jari-jari tangan, sakit kepala dan penglihatan ibu yang kadang-kadang kabur.
Kebutuhan :
Informasi hasil pemeriksaan, KIE seputar kehamilan dan penanganan keluhan ibu
III. DIAGNOSA POTENSIAL
Preeklamsia berat
Eklamsia
IV. TINDAKAN SEGERA
o Pantau tekanan darah, proteinuria dan kondisi janin setiap minggu
o Jika tekanan darah meningkat, tangani sebagai preeklamsia
V. INTERVENSI
1. Lakukan komunikasi interpersonal
2. Beritahu ibu hasil pemeriksaan
3. Beritahu ibu penyebab dari keluhan yang dirasakan
4. Anjurkan ibu untuk santai dan tenang dalam menghadapi kehamilan
5. Anjurkan ibu untuk banyak beristirahat
6. Anjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi
7. Beritahu ibu tanda bahaya kehamilan
8. Berikan raboransia dan therapy dengan berkolaborasi
9. Anjurkan ibu kontrol ulang
VI. IMPLEMENTASI
1. Melakukan komunikasi interpersonal agar tercipta hubungan yang nyaman dan rasa saling percaya antara ibu dan bidan.
2. Memberitahu ibu hasil pemeriksaan bahwa sekarang usia kehamilan ibu 26 minngu, kondisi ibu dan janin baik, tanda-tanda vital ibu dalam batas normal namun tekanan ibu agak tinggi, posisi janin baik, DJJ + 146 x/menit, kuat dan teratur, hasil pemeriksaan penunjang menunjukan adanya proteinuria dalam urine ibu.
3. Memberitahu ibu penyebab dari keluhan yang dirasakan adalah karena adanya tanda gejala preeklamsia ringan pada kehamilan, namun ibu tidak perlu khawatir karena masih bisa diatasi asalkan ibu bersedia mengikuti semua anjuran yang diberikan bidan.
4. Menganjurkan ibu untuk santai dan tenang dalam menghadapi kehamilan dan juga memberikan dukungan agar ibu tidak stress dalam menjalani kehamilan.
5. Menganjurkan ibu untuk banyak beristirahat, tidak berpergian terlalu jauh dan mengurangi aktivitas ibu yang berat-berat agar ibu tidak kelelahan.
6. Menganjurkan ibu untuk mengkonsumsi makanan bergizi seperti ikan, telur, tahu-tempe, sayuran hijau (bayam, kangkung, dll), kentang, wortel, buah-buahan dan perbanyak minum air putih untuk memenuihi nutrisi yang diperlukan ibu dan janin. Mengurangi makanan yang bersifat menaikan tekanan darah seperti daging sapi, ikan asin, dan daun singkong.
7. Memberitahu ibu tanda bahaya kehamilan, yaitu :
Perdarahan pervaginam
Demam ±2 hari (>38 oC)
Bengkak pada wajah dan tangan disertai pandangan kabur
Nyeri perut hebat
Gerakan janin berkurang/janin tidak bergerak
Air ketuban keluar selelum waktunya
8. Memberikan raboransia dan therapy setelah berkonsultasi dengan dr. SPoG :
R/ gestamin plus XX | 1x1 tablet
Nifedipin 10 mg IX | 3x1 tablet
9. Menganjurkan ibu kontrol ulang 1 minngu lagi atau bila dirasakan keluhan semakin berat dan ada mengalami tanda bahaya kehamilan
VII. EVALUASI
1. Ibu mengetahui hasil pemeriksaan
2. Ibu bersedia mengikuti semua anjuran yang diberikan bidan
3. Ibu mengetahui tanda bahaya kehamilan
4. Ibu telah mendapatkan raboransia
5. Ibu bersedia untuk kontrol ulang
PENYULUHAN GIZI SEIMBANG PADA IBU HAMIL
Topik : Gizi Pada Ibu Hamil
Hari/Tanggal : Senin, 16 Juli 2012
Waktu :
Tempat :
Sasaran : Ibu hamil
I. Tujuan Umum
Setelah mendapatkan penyuluhan ini ibu hamil dapat mengerti, mengetahui, dan memahami tentang kebutuhan gizi yang dibutuhkan bagi ibu hamilpada bayinya agar bayinya bisa menjadi bayi yang sehat dan cerdas, serta pertumbuhan dan perkembangannya tidak terganggu.
II. Tujuan Khusus
1. Para ibu bayi dapat mengetahui dan mengerti tentang apa yang dimaksud dengan makanan bergizi pada bayi.
2. Para ibu bayi dapat mengetahui dan mengerti tentang jenis-jenis makanan apa saja yang dapat dikonsumsi oleh bayinya sesuai usia bayi.
3. Para ibu bayi dapat mengetahui dan mengerti tentang akibat jika bayinya kekurangan gizi ataupun kelebihan gizi.
4. Para ibu bayi dapat mengetahui dan mengerti tentang kebutuhan gizi pada bayi.
III. Proses Pemberian Penyuluhan
Kegiatan Penyuluhan
1. Memberikan salam
2. Memperkenalkan diri
3. Memberikan penjelasan tentang apa saja yang dimaksud dengan makanan bergizi pada bayi.
4. Memberikan penjelasan tentang jenis-jenis makanan apa saja yang dapat dikonsumsi oleh bayinya sesuai usia bayi.
5. Memberikan penjelasan tentang akibat jika bayi kekurangan gizi ataupun kelebihan gizi.
6. Memberikan penjelasan tentang kebutuhan gizi pada bayi.
7. Memberikan kesempatan pada klien untuk bertanya.
8. Memberikan jawaban atas apa pertanyaan yang diajukan.
9. Menyimpulkan hasil penyuluhan (evaluasi)
Kegiatan Klien
1. Klien menyapa kembali salam tersebut
2. Klien memperhatikan
3. Klien mendengarkan penjelasan yang diberikan
4. Klien mendengarkan penjelasan yang diberikan
5. Klien mendengarkan penjelasan yang diberikan
6. Klien mendengarkan penjelasan yang diberikan.
7. Klien mengajukan pertanyaan
8. Klien mendengarkan jawaban yang diberikan
9. Klien mendengarkan dengan baik
IV. Metode dan Teknik Penyuluhan
1. Ceramah dan Tanya jawab
2. Dengan alat bantu gambar dan leaflet
V. Materi
GIZI SEIMBANG BAYI
1. Apa yang dimaksud dengan makanan bergizi pada bayi ?
Makanan terbaik bagi bayi baru lahir maupun bayi premature adalah ASI. ASI memiliki keuntungan-keuntungan gizi yang tinggi, imunologi dan fisiologi dibandingkan susu formula. Pemberian ASI dimulai sesegera mungkin setelah bayi lahir. ASI yang pertama kali keluar disebut dengan colostrums yang merupakan makanan bayi yang sangat baik karena mengandung air, protein, lemak, lactose, mineral, vitamin dan antibody yang akan melindungi bayi dari infeksi. ASI mudah dicerna dan langsung terserap. Namun, dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan tambahan/pendamping ASI. Banyaknya ASI yang dihasilkan ibu tergantung dari status gizi ibu, makanan tambahan sewaktu hamil/ menyusui, stress mental dan sebagainya.
2. Jenis-jenis makanan apa saja yang dapat dikonsumsi oleh bayi sesuai usia bayi?
• Umur 0-6 bulan
ASI merupakan makanan utama, diberikan setiap saat sesuai kehendak bayi.
Pada usia 5 bulan, bayi dapat diberikan buah yang dihaluskan sedikit demi sedikit
Pada usia 6 bulan, dapat diberikan makanan lumat seperti bubur tepung, tim saring, nasi pisang dilumatkan, sebanyak 2 kali sehari
• Umur 6-12 bulan
Produksi ASI mulai berkurang. Oleh karena itu disamping ASI, berikanlah makanan tambahan seimbang yang beraneka ragam 4-5 kali sehari.
Makanan dapat dibuat dari campuran :
1) Sumber tenaga : Beras, tepung-tepungan, kentang, macaroni, dll.
2) Lauk Pauk : Ikan, daging, hati, ayam, telur, tahu tempe, kacang hijau, dll.
3) Sayuran : Bayam, kangkung, wortel, labu kuning, tomat, dll.
4) Buah : Pisang, papaya, jeruk
Usahakan memberikan ASI sampai anak berusia 2 tahun.
Contoh jadwal pemberian jenis makanan pada bayi
Umur Jenis Makanan
0-3 Bulan
3-5 bulan
5-6 bulan
7-9 bulan
9-12 bulan
12-24 bulan
ASI tidak terjadwal
ASI tidak terjadwal
ASI ditambah dengan buah yang dihaluskan atau air buah
ASI ditambah makanan lumat 2 kali sehari, ditambah dengan buah atau air buah
ASI, makanan lembek, 4 sampai 5 kali ditambah buah atau air buah
ASI, makanan lembek 2-3 kali sehari, 1-2 kali makanan dewasa ditambah buah
3. Dampak Kekurangan ataupun Kelebihan Gizi Pada Bayi
Asupan gizi sangat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan. Peran makanan dalam tumbuh kembang bayi adalah membentuk struktur pertumbuhan otak dan menjalankan fungsi otak, yang pertumbuhannya dimulai sejak bayi masih dalam kandungan sampai usia 12 tahun. Jika bayi kekurangan gizi maka akan tergenggu perkembangan otaknya sehingga proses pikirnya menjadi lambat. Selain itu bayi bisa mengalami kekurangan gizi yang berdampak pada kesehatan dan daya tubuhnya sehingga bayi jadi kurus dan sering sakit.
Kekurangan energi dalam jangka waktu lama berakibat menghambat pertumbuhan dan mengurangi cadangan energi dalam tubuh sehingga terjadi marasmus (gizi kurang/ buruk). Kekurangan zat esensial mengakibatkan defisiensi zat gizi tersebut. Misalnya xeroftalmia (kekurangan vit.A), Rakhitis (kekurangan vit.D).
Makanan yang ideal harus mengandung cukup energi dan zat esensial sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Pemberian makanan yang kelebihan akan energi mengakibatkan obesitas, sedang kelebihan zat gizi esensial dalam jangka waktu lama akan menimbulkan penimbunan zat gizi tersebut dan menjadi racun bagi tubuh. Misalnya hipervitaminosis A, hipervitaminosis D dan hiperkalemi.
4. Apa kebutuhan gizi pada bayi ?
Dianjurkan untuk memberi 100-110 Kkal energi tiap kgBB/ hari. Susu bayi mengandung kurang lebih 67 Kkal tiap 100 cc, maka bayi diberikan 150-160 cc susu tiap kgBB. Tetapi tidak semua bayi memerlukan jumlah energi tersebut.
Ada lima kebutuhan gizi bayi yang harus dipenuhi agar tumbuh kembang bayi optimal. Berikut adalah sumber-sumber makanan yang dapat memenuhi kebutuhan dasar gizi bayi.
Karbohidrat
Guna:
Bahan baku menghasilkan energi yang dibutuhkan untuk menunjang aktivitas bayi.
Sumber:
Beras, beras merah, tepung maizena, tepung roti, macaroni, pasta, kentang, havermut.
Protein
Guna:
Bahan utama pembentukan berbagai struktur organ, terutama tulang dan oto, termasuk sel-sel saraf otak.
Sumber:
Susu dan hasil olahannya (keju, krim dan yoghurt), daging (ternak, unggas, ikan), telur, tahu, tempe dan kacang-kacangan (kacang kedelai, kacang hijau, kacang merah)
Lemak
Guna:
Bahan utama sumber energy, dan dibutuhkan oleh beberapa jenis zat gizi, misalnya vitamil A, agar dapat diserap oleh tubuh.
Sumber:
Minyak sayur (terutama minyak jagung, minyak wijen, dan minyak bunga matahari), santan, mentega atau margarin.
Vitamin dan mineral
Guna:
Memperlancar berbagai proses metabolism di dalam tubuh, termasuk proses penghantaran perintah di antara sel-sel saraf.
Sumber:
Bayam, daun kangkung, brokoli, labu kuning, buncis muda, jagung, jamur merang,, kacang kapri, wortel, pisang, jeruk, tomat, papaya, semangka, alpukat, melon, pir, dan apel.
Air
Guna:
Memuaskan rasa haus bayi dan membantu melancarkan kerja pencernaan bayi.
Sumber:
ASI/PASI, air putih matang, sari buah segar dan makanan berkuah.
Semua nutrisi bayi harus diberikan dalam kadar yang seimbang. Sumber masalah kesehatan anak-anak adalah jika asupan tidak seimbang, terutama jika hanya beberapa jenis zat gizi yang dikonsumsi bayi. Kecukupan gizi tentu akan mendukung pertumbuhan anak secara optimal.
VI. Evaluasi
Menanyakan pada klien beberapa pertanyaan :
1. Apa yang dimaksud makanan bergizi bagi bayi?
2. Makanan apa saja yang dapat dikonsumsi oleh bayi sesuai usia?
3. Apa saja akibat dari kekurangan maupun kelebihan gizi bagi bayi?
4. Apa saja kebutuhan gizi pada bayi?
VII. Hasil Evaluasi
Klien (ibu bayi) mengerti dan memahami dengan semua penjelasan yang telah disampaikan mengenai gizi seimbang pada bayi.
BUKU SUMBER
Mitayani, SST, .Buku Saku Ilmu Gizi.2010.Jakarta:Trans Info Media
Neilson, Joan.Cara Menyusui yang Baik.1995.Jakarta:ARCAN
Dr. Soetjiningsih, DSAK. ASI Petunjuk untuk Tenaga Kesehatan.1997:EGC
http://www.deetha-nezz.blogspot.com/5kebutuhangizibayi
P E N Y U L U H A N
G I Z I P A D A B A Y I
DISUSUN OLEH :
Nama : Ditha Rizky Oktavianti
NIM : PO.62.24.10.087
KEBIDANAN REGULER XII A
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTERIAN KESEHATAN
PALANGKA RAYA
2011
Jumat, 17 Februari 2012
AKU KANGEN !!!
Hay semuaaa...
Lama banget rasanya Thaa gk ngeposting plus ngurusin blog ini. Vakuum ceritanya neeh...
heheheee,
^^
kangeeeen bgt !
hahahaaa... buat yg maen k blog ini, tinggalin comment yhaaaw.
Masa cuman copy paste doang? Permisi duuunk...
Heem... Cerita apa yaah?
Bingung juga neh oleh saking lamanya gk nulis. rencananya klo memang ada waktu, mau bkin cerpen tpi gk sempet muluuu.
:p
Oh iya, kmrn Thaa dinas d slah stu RS selama sebulan... bnyk pengalaman yg Thaa dapat, walaupun banyak suka dan duka yang tercipta. Makin deket sama temen-temen soalnya tidur bareng, makan bareng, mandi bareng, jalan bareng, hang out bareng, bareng-bareng deh pkoke.
kangeeen saat-saat itu.
heem... klo di masa depan Thaa ngebuka postingan ini, pasti inget kenangan selama di sana deeh. wkwkwkwk, semua terlihaaat... kebiasaan jelek maupun yg buruk. Buka2an deeh.
Buat yg kuliah di jurusan yg bukan Bidan, psti gk akan pernah mengalami hal kyak gene.
Akuuuu sayaang semua tmen2 Kuuuu...
Mkasih udah bikin Thaa senang, keseel, BT tapiii bahagia.
Hoaaah... bnyk gk seh yg udh d tulis? Kok udah ngantuk yaa???
heem... Aku kangen seseorang di sana. Lagi berantem... huuuft!!!
Cerita gk yaa??? gk usaah deeh, ntar diliat banyak org. Hahahahahaaa...
Lama banget rasanya Thaa gk ngeposting plus ngurusin blog ini. Vakuum ceritanya neeh...
heheheee,
^^
kangeeeen bgt !
hahahaaa... buat yg maen k blog ini, tinggalin comment yhaaaw.
Masa cuman copy paste doang? Permisi duuunk...
Heem... Cerita apa yaah?
Bingung juga neh oleh saking lamanya gk nulis. rencananya klo memang ada waktu, mau bkin cerpen tpi gk sempet muluuu.
:p
Oh iya, kmrn Thaa dinas d slah stu RS selama sebulan... bnyk pengalaman yg Thaa dapat, walaupun banyak suka dan duka yang tercipta. Makin deket sama temen-temen soalnya tidur bareng, makan bareng, mandi bareng, jalan bareng, hang out bareng, bareng-bareng deh pkoke.
kangeeen saat-saat itu.
heem... klo di masa depan Thaa ngebuka postingan ini, pasti inget kenangan selama di sana deeh. wkwkwkwk, semua terlihaaat... kebiasaan jelek maupun yg buruk. Buka2an deeh.
Buat yg kuliah di jurusan yg bukan Bidan, psti gk akan pernah mengalami hal kyak gene.
Akuuuu sayaang semua tmen2 Kuuuu...
Mkasih udah bikin Thaa senang, keseel, BT tapiii bahagia.
Hoaaah... bnyk gk seh yg udh d tulis? Kok udah ngantuk yaa???
heem... Aku kangen seseorang di sana. Lagi berantem... huuuft!!!
Cerita gk yaa??? gk usaah deeh, ntar diliat banyak org. Hahahahahaaa...
BALITA DAN PENYAKIT YANG LAZIM TERJADI DI INDONESIA
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seorang balita sangat mungkin mengalami satu atau lebih penyakit selama tahun pertama kehidupannya. Hal ini karena balita belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang optimal, sehingga rentan terkena penyakit. Penyakit-penyakit tersebut memang biasa dan mungkin terjadi pada balita sejak lahir hingga usia-usia tertentu. Tidak perlu panik, tapi jika kondisi semakin parah dan Anda harus waspada, sebaiknya segera bawa ke dokter.
B. Tujuan Penulisan
1. Memenuhi tugas mata kuliah asuhan neonatus bayi dan balita
2. Untuk mengetahui pengertian berbagai penyakit pada balita
3. Agar mahasiswa mengetahui penyebab, tanda dan gejala yang berhubungan dengan penyakit pada balita
C. Manfaat Penulisan
Diharapkan Mahasiswa mengetahui dan memahami berbagai penyakit yang lazim terjadi pada balita
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah- masalah yang akan di kaji dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Definisi berbagai penyakit pada balita
2. Penyebab penyakit pada balita
3. Tanda dan gejala penyakit pada balita
4. Penanganan penyakit pada balita
E. Metode Penulisan
Dari banyak metode yang penulis ketahui, penulis menggunakan metode kepustakaan. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis, efektif, efisien, serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
1. DEMAM BERDARAH
A. PENGERTIAN
Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti.
B. TANDA DAN GEJALA
Penyakit ini ditunjukkan melalui munculnya demam tinggi terus menerus, disertai adanya tanda perdarahan, contohnya ruam. Ruam demam berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang. Selain itu tanda dan gejala lainnya adalah sakit perut, rasa mual, trombositopenia, hemokonsentrasi, sakit kepala berat, sakit pada sendi (artralgia), sakit pada otot (mialgia). Sejumlah kecil kasus bisa menyebabkan sindrom shock dengue yang mempunyai tingkat kematian tinggi. Kondisi waspada ini perlu disikapi dengan pengetahuan yang luas oleh penderita maupun keluarga yang harus segera konsultasi ke dokter apabila pasien/penderita mengalami demam tinggi 3 hari berturut-turut. Banyak penderita atau keluarga penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut.
Sesudah masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari orang yang tertular dapat mengalami / menderita penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini :
• Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.
• Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 - 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit.
• Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epistaksis/mimisan), mulut, dubur, dsb.
• Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok / presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian.
Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap Penderita yang diduga menderita Demam Berdarah dalam tingkat yang manapun harus segera dibawa ke dokter atau Rumah Sakit, mengingat sewaktu-waktu dapat mengalami syok / kematian.
Demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah platelet akan jatuh hingga pasien dianggap afebril.
Diagnosis demam berdarah biasa dilakukan secara klinis. Biasanya yang terjadi adalah demam tanpa adanya sumber infeksi, ruam petekial dengan trombositopenia dan leukopenia relatif.
C. DIAGNOSIS
Serologi dan reaksi berantai polimerase tersedia untuk memastikan diagnosa demam berdarah jika terindikasi secara klinis.
Mendiagnosis demam berdarah secara dini dapat mengurangi risiko kematian daripada menunggu akut.
D. PENCEGAHAN
Tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk penyakit demam berdarah.
Pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau mengurangi vektor nyamuk demam berdarah. Insiatif untuk menghapus kolam-kolam air yang tidak berguna (misalnya di pot bunga) telah terbukti berguna untuk mengontrol penyakit yang disebabkan nyamuk, menguras bak mandi setiap seminggu sekali, dan membuang hal - hal yang dapat mengakibatkan sarang nyamuk demam berdarah Aedes Aegypti.
Hal-hal yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit demam berdarah, sebagai berikut:
• Melakukan kebiasaan baik, seperti makan makanan bergizi, rutin olahraga, dan istirahat yang cukup
• Memasuki masa pancaroba, perhatikan kebersihan lingkungan tempat tinggal dan melakukan 3M, yaitu menguras bak mandi, menutup wadah yang dapat menampung air, dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang perkembangan jentik-jentik nyamuk, meski pun dalam hal mengubur barang-barang bekas tidak baik, karena dapat menyebabkan polusi tanah. Akan lebih baik bila barang-barang bekas tersebut didaur-ulang
• Fogging atau pengasapan hanya akan mematikan nyamuk dewasa, sedangkan bubuk abate akan mematikan jentik pada air. Keduanya harus dilakukan untuk memutuskan rantai perkembangbiakan nyamuk
• Segera berikan obat penurun panas untuk demam apabila penderita mengalami demam atau panas tinggi
E. PENGOBATAN
Bagian terpenting dari pengobatannya adalah terapi suportif. Sang pasien disarankan untuk menjaga penyerapan makanan, terutama dalam bentuk cairan. Jika hal itu tidak dapat dilakukan, penambahan dengan cairan intravena mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah platelet menurun drastis.
Pengobatan alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum ekstrak daun jambu biji. Merujuk hasil kerja sama penelitian Fakultas Kedokteran Unair dan BPOM, ekstrak daun jambu biji bisa menghambat pertumbuhan virus dengue. Bahan itu juga meningkatkan trombosit tanpa efek samping. Masyarakat mesti memperhatikan informasi penting ini. Berdasarkan hasil kerja sama dalam uji pre klinis Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang dilansir di Jakarta, Rabu (10/3) siang, ekstrak daun jambu biji dipastikan bisa menghambat pertumbuhan virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD). Bahan itu juga mampu meningkatkan jumlah trombosit hingga 100 ribu milimeter per kubik tanpa efek samping. Peningkatan tersebut diperkirakan dapat tercapai dalam tempo delapan hingga 48 jam setelah ekstrak daun jambu biji dikonsumsi
2. MALARIA
A. Pengertian
Malaria adalah sejenis penyakit menular yang dalam manusia sekitar 350-500 juta orang terinfeksi dan lebih dari 1 juta kematian setiap tahun, terutama di daerah tropis dan di Afrika di bawah gurun Sahara.
B. Sebab dan gejala
Malaria disebabkan oleh parasit protozoa. Plasmodium (salah satu Apicomplexa) dan penu bila tak terawat; anak kecil lebih mungkin berakibat fatal.
C. Pengobatan
Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap klorokuin.
Untuk suatu serangan malaria falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap klorokuin, bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena. Pada malaria lainnya jarang terjadi resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.
Prinsip penanganan malaria secara umum adalah bila tanpa komplikasi diberikan peroral artesunat kombinasi dengan amodiakuin (artesdiakuin) atau coartem atau duo-cotexcin, sedangkan malaria dengan komplikasi diberikan artesunat 2,4 mg/kgbb pada jam ke 0 - 12 - 24 - 72 dan seterusnya sampai pasien bisa diterapi secara oral atau digunakan artemeter 3,2 mg/kgbb dilanjutkan dengan 1,6 mg/kgbb.
3. CAMPAK
A. Pengertian
Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus.
Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada.
Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini.
B. Penyebab
Campak, rubeola, atau measles adalah penyakit infeksi yang sangat mudah menular atau infeksius sejak awal masa prodromal, yaitu kurang lebih 4 hari pertama sejak munculnya ruam. Campak disebabkan oleh paramiksovirus ( virus campak). Penularan terjadi melalui percikan ludah dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita campak (air borne disease). Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul.
Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah: - bayi berumur lebih dari 1 tahun - bayi yang tidak mendapatkan imunisasi - remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.
C. Gejala
Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu berupa: - Panas badan - nyeri tenggorokan - hidung meler ( Coryza ) - batuk ( Cough ) - Bercak Koplik - nyeri otot - mata merah ( conjuctivitis )
2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan tungkai, sedangkan ruam di wajah mulai memudar.
Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.
Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.
D. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan ruam kulit yang khas.
Pemeriksaan lain yang mungkin perlu dilakukan: - pemeriksaan darah, pemeriksaan darah tepi - pemeriksaan Ig M anti campak - Pemeriksaan komplikasi campak :
• enteritis
• Ensephalopati,
• Bronkopneumoni
E.Pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk campak. Anak sebaiknya menjalani tirah baring. Untuk menurunkan demam, diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.
F.Pencegahan
Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas.
Jika hanya mengandung campak, vaksin dibeirkan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.
selain itu penderita juga harus disarankan untuk istirahat minimal 10 hari dan makan makanan yang bergizi agar kekebalan tubuh meningkat.
4. POLIO
A. Pengertian
Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).
B. Vaksin Efektif Pertama
Vaksin efektif pertama dikembangkan oleh Jonas Salk. Salk menolak untuk mematenkan vaksin ini karena menurutnya vaksin ini milik semua orang seperti halnya sinar matahari. Namun vaksin yang digunakan untuk inokulasi masal adalah vaksin yang dikembangkan oleh Albert Sabin. Inokulasi pencegahan polio anak untuk pertama kalinya diselenggarakan di Pittsburgh, Pennsylvania pada 23 Februari 1954. Polio hilang di Amerika pada tahun 1979.
5. PERTUSIS
A. Pengertian
Pertusis atau batuk rejan atau batuk seratus hari adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh Bordetella pertusis. Pertusis merupakan penyakit yang toxin mediated, toksin yang dihasilkan kuman (melekat pada bulu getar saluran nafas atas) akan melumpuhkan bulu getar tersebut sehingga gangguan aliran sekret saluran pernapasan, dan berpotensi menyebabkan pneumonia.
Gejalanya khas yaitu Batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam,berbunyi melengking.
Penularan umumnya terjadi melalui udara ( batuk / bersin ). Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri, dilakukan sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang waktu penyuntikan satu – dua bulan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Balita sangat mungkin mengalami satu atau lebih penyakit selama tahun pertama kehidupannya. Hal ini karena balita belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang optimal, sehingga rentan terkena penyakit. Sebagai seorang Nakes kita harus mengetahui penyakit apa saja yang sering terjadi pada balita dan bagaimana cara menanganinya.
B. Saran
Semua tenaga Kesehatan harus berkompeten dan profesional agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. www. parents giuide.batter parents batter generetion.
2. Alimul, aziz. A. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan
3. . Neil, W.R. Panduan Lengkap Perawatan bay dan balita. Jakarta. Dian Rakyat; 2001.
4.. Departemen Kesehatan RI,. Asuhan neonatus bayi dan balita.Dalam Konteks Keluarga, Jakarta; 1992.
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Seorang balita sangat mungkin mengalami satu atau lebih penyakit selama tahun pertama kehidupannya. Hal ini karena balita belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang optimal, sehingga rentan terkena penyakit. Penyakit-penyakit tersebut memang biasa dan mungkin terjadi pada balita sejak lahir hingga usia-usia tertentu. Tidak perlu panik, tapi jika kondisi semakin parah dan Anda harus waspada, sebaiknya segera bawa ke dokter.
B. Tujuan Penulisan
1. Memenuhi tugas mata kuliah asuhan neonatus bayi dan balita
2. Untuk mengetahui pengertian berbagai penyakit pada balita
3. Agar mahasiswa mengetahui penyebab, tanda dan gejala yang berhubungan dengan penyakit pada balita
C. Manfaat Penulisan
Diharapkan Mahasiswa mengetahui dan memahami berbagai penyakit yang lazim terjadi pada balita
D. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka masalah- masalah yang akan di kaji dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut :
1. Definisi berbagai penyakit pada balita
2. Penyebab penyakit pada balita
3. Tanda dan gejala penyakit pada balita
4. Penanganan penyakit pada balita
E. Metode Penulisan
Dari banyak metode yang penulis ketahui, penulis menggunakan metode kepustakaan. Pada zaman modern ini metode kepustakaan tidak hanya berarti pergi ke perpustakaan tapi dapat pula dilakukan dengan pergi ke warung internet (warnet). Penulis menggunakan metode ini karena jauh lebih praktis, efektif, efisien, serta sangat mudah untuk mencari bahan dan data – data tentang topik ataupun materi yang penulis gunakan untuk makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
1. DEMAM BERDARAH
A. PENGERTIAN
Demam berdarah (DB) atau demam berdarah dengue (DBD) adalah penyakit demam akut yang ditemukan di daerah tropis, dengan penyebaran geografis yang mirip dengan malaria. Penyakit ini disebabkan oleh salah satu dari empat serotipe virus dari genus Flavivirus, famili Flaviviridae. Setiap serotipe cukup berbeda sehingga tidak ada proteksi-silang dan wabah yang disebabkan beberapa serotipe (hiperendemisitas) dapat terjadi. Demam berdarah disebarkan kepada manusia oleh nyamuk Aedes aegypti.
B. TANDA DAN GEJALA
Penyakit ini ditunjukkan melalui munculnya demam tinggi terus menerus, disertai adanya tanda perdarahan, contohnya ruam. Ruam demam berdarah mempunyai ciri-ciri merah terang. Selain itu tanda dan gejala lainnya adalah sakit perut, rasa mual, trombositopenia, hemokonsentrasi, sakit kepala berat, sakit pada sendi (artralgia), sakit pada otot (mialgia). Sejumlah kecil kasus bisa menyebabkan sindrom shock dengue yang mempunyai tingkat kematian tinggi. Kondisi waspada ini perlu disikapi dengan pengetahuan yang luas oleh penderita maupun keluarga yang harus segera konsultasi ke dokter apabila pasien/penderita mengalami demam tinggi 3 hari berturut-turut. Banyak penderita atau keluarga penderita mengalami kondisi fatal karena menganggap ringan gejala-gejala tersebut.
Sesudah masa tunas / inkubasi selama 3 - 15 hari orang yang tertular dapat mengalami / menderita penyakit ini dalam salah satu dari 4 bentuk berikut ini :
• Bentuk abortif, penderita tidak merasakan suatu gejala apapun.
• Dengue klasik, penderita mengalami demam tinggi selama 4 - 7 hari, nyeri-nyeri pada tulang, diikuti dengan munculnya bintik-bintik atau bercak-bercak perdarahan di bawah kulit.
• Dengue Haemorrhagic Fever (Demam berdarah dengue/DBD) gejalanya sama dengan dengue klasik ditambah dengan perdarahan dari hidung (epistaksis/mimisan), mulut, dubur, dsb.
• Dengue Syok Sindrom, gejalanya sama dengan DBD ditambah dengan syok / presyok. Bentuk ini sering berujung pada kematian.
Karena seringnya terjadi perdarahan dan syok maka pada penyakit ini angka kematiannya cukup tinggi, oleh karena itu setiap Penderita yang diduga menderita Demam Berdarah dalam tingkat yang manapun harus segera dibawa ke dokter atau Rumah Sakit, mengingat sewaktu-waktu dapat mengalami syok / kematian.
Demam berdarah umumnya lamanya sekitar enam atau tujuh hari dengan puncak demam yang lebih kecil terjadi pada akhir masa demam. Secara klinis, jumlah platelet akan jatuh hingga pasien dianggap afebril.
Diagnosis demam berdarah biasa dilakukan secara klinis. Biasanya yang terjadi adalah demam tanpa adanya sumber infeksi, ruam petekial dengan trombositopenia dan leukopenia relatif.
C. DIAGNOSIS
Serologi dan reaksi berantai polimerase tersedia untuk memastikan diagnosa demam berdarah jika terindikasi secara klinis.
Mendiagnosis demam berdarah secara dini dapat mengurangi risiko kematian daripada menunggu akut.
D. PENCEGAHAN
Tidak ada vaksin yang tersedia secara komersial untuk penyakit demam berdarah.
Pencegahan utama demam berdarah terletak pada menghapuskan atau mengurangi vektor nyamuk demam berdarah. Insiatif untuk menghapus kolam-kolam air yang tidak berguna (misalnya di pot bunga) telah terbukti berguna untuk mengontrol penyakit yang disebabkan nyamuk, menguras bak mandi setiap seminggu sekali, dan membuang hal - hal yang dapat mengakibatkan sarang nyamuk demam berdarah Aedes Aegypti.
Hal-hal yang harus dilakukan untuk menjaga kesehatan agar terhindar dari penyakit demam berdarah, sebagai berikut:
• Melakukan kebiasaan baik, seperti makan makanan bergizi, rutin olahraga, dan istirahat yang cukup
• Memasuki masa pancaroba, perhatikan kebersihan lingkungan tempat tinggal dan melakukan 3M, yaitu menguras bak mandi, menutup wadah yang dapat menampung air, dan mengubur barang-barang bekas yang dapat menjadi sarang perkembangan jentik-jentik nyamuk, meski pun dalam hal mengubur barang-barang bekas tidak baik, karena dapat menyebabkan polusi tanah. Akan lebih baik bila barang-barang bekas tersebut didaur-ulang
• Fogging atau pengasapan hanya akan mematikan nyamuk dewasa, sedangkan bubuk abate akan mematikan jentik pada air. Keduanya harus dilakukan untuk memutuskan rantai perkembangbiakan nyamuk
• Segera berikan obat penurun panas untuk demam apabila penderita mengalami demam atau panas tinggi
E. PENGOBATAN
Bagian terpenting dari pengobatannya adalah terapi suportif. Sang pasien disarankan untuk menjaga penyerapan makanan, terutama dalam bentuk cairan. Jika hal itu tidak dapat dilakukan, penambahan dengan cairan intravena mungkin diperlukan untuk mencegah dehidrasi dan hemokonsentrasi yang berlebihan. Transfusi platelet dilakukan jika jumlah platelet menurun drastis.
Pengobatan alternatif yang umum dikenal adalah dengan meminum ekstrak daun jambu biji. Merujuk hasil kerja sama penelitian Fakultas Kedokteran Unair dan BPOM, ekstrak daun jambu biji bisa menghambat pertumbuhan virus dengue. Bahan itu juga meningkatkan trombosit tanpa efek samping. Masyarakat mesti memperhatikan informasi penting ini. Berdasarkan hasil kerja sama dalam uji pre klinis Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga, Surabaya, Jawa Timur dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang dilansir di Jakarta, Rabu (10/3) siang, ekstrak daun jambu biji dipastikan bisa menghambat pertumbuhan virus dengue penyebab demam berdarah dengue (DBD). Bahan itu juga mampu meningkatkan jumlah trombosit hingga 100 ribu milimeter per kubik tanpa efek samping. Peningkatan tersebut diperkirakan dapat tercapai dalam tempo delapan hingga 48 jam setelah ekstrak daun jambu biji dikonsumsi
2. MALARIA
A. Pengertian
Malaria adalah sejenis penyakit menular yang dalam manusia sekitar 350-500 juta orang terinfeksi dan lebih dari 1 juta kematian setiap tahun, terutama di daerah tropis dan di Afrika di bawah gurun Sahara.
B. Sebab dan gejala
Malaria disebabkan oleh parasit protozoa. Plasmodium (salah satu Apicomplexa) dan penu bila tak terawat; anak kecil lebih mungkin berakibat fatal.
C. Pengobatan
Pengobatan malaria tergantung kepada jenis parasit dan resistensi parasit terhadap klorokuin.
Untuk suatu serangan malaria falciparum akut dengan parasit yang resisten terhadap klorokuin, bisa diberikan kuinin atau kuinidin secara intravena. Pada malaria lainnya jarang terjadi resistensi terhadap klorokuin, karena itu biasanya diberikan klorokuin dan primakuin.
Prinsip penanganan malaria secara umum adalah bila tanpa komplikasi diberikan peroral artesunat kombinasi dengan amodiakuin (artesdiakuin) atau coartem atau duo-cotexcin, sedangkan malaria dengan komplikasi diberikan artesunat 2,4 mg/kgbb pada jam ke 0 - 12 - 24 - 72 dan seterusnya sampai pasien bisa diterapi secara oral atau digunakan artemeter 3,2 mg/kgbb dilanjutkan dengan 1,6 mg/kgbb.
3. CAMPAK
A. Pengertian
Penyakit Campak (Rubeola, Campak 9 hari, measles) adalah suatu infeksi virus yang sangat menular, yang ditandai dengan demam, batuk, konjungtivitis (peradangan selaput ikat mata/konjungtiva) dan ruam kulit. Penyakit ini disebabkan karena infeksi virus campak golongan Paramyxovirus.
Penularan infeksi terjadi karena menghirup percikan ludah penderita campak. Penderita bisa menularkan infeksi ini dalam waktu 2-4 hari sebelum rimbulnya ruam kulit dan 4 hari setelah ruam kulit ada.
Sebelum vaksinasi campak digunakan secara meluas, wabah campak terjadi setiap 2-3 tahun, terutama pada anak-anak usia pra-sekolah dan anak-anak SD. Jika seseorang pernah menderita campak, maka seumur hidupnya dia akan kebal terhadap penyakit ini.
B. Penyebab
Campak, rubeola, atau measles adalah penyakit infeksi yang sangat mudah menular atau infeksius sejak awal masa prodromal, yaitu kurang lebih 4 hari pertama sejak munculnya ruam. Campak disebabkan oleh paramiksovirus ( virus campak). Penularan terjadi melalui percikan ludah dari hidung, mulut maupun tenggorokan penderita campak (air borne disease). Masa inkubasi adalah 10-14 hari sebelum gejala muncul.
Kekebalan terhadap campak diperoleh setelah vaksinasi, infeksi aktif dan kekebalan pasif pada seorang bayi yang lahir ibu yang telah kebal (berlangsung selama 1 tahun). Orang-orang yang rentan terhadap campak adalah: - bayi berumur lebih dari 1 tahun - bayi yang tidak mendapatkan imunisasi - remaja dan dewasa muda yang belum mendapatkan imunisasi kedua.
C. Gejala
Gejala mulai timbul dalam waktu 7-14 hari setelah terinfeksi, yaitu berupa: - Panas badan - nyeri tenggorokan - hidung meler ( Coryza ) - batuk ( Cough ) - Bercak Koplik - nyeri otot - mata merah ( conjuctivitis )
2-4 hari kemudian muncul bintik putih kecil di mulut bagian dalam (bintik Koplik). Ruam (kemerahan di kulit) yang terasa agak gatal muncul 3-5 hari setelah timbulnya gejala diatas. Ruam ini bisa berbentuk makula (ruam kemerahan yang mendatar) maupun papula (ruam kemerahan yang menonjol). Pada awalnya ruam tampak di wajah, yaitu di depan dan di bawah telinga serta di leher sebelah samping. Dalam waktu 1-2 hari, ruam menyebar ke batang tubuh, lengan dan tungkai, sedangkan ruam di wajah mulai memudar.
Pada puncak penyakit, penderita merasa sangat sakit, ruamnya meluas serta suhu tubuhnya mencapai 40° Celsius. 3-5 hari kemudian suhu tubuhnya turun, penderita mulai merasa baik dan ruam yang tersisa segera menghilang.
Demam, kecapaian, pilek, batuk dan mata yang radang dan merah selama beberapa hari diikuti dengan ruam jerawat merah yang mulai pada muka dan merebak ke tubuh dan ada selama 4 hari hingga 7 hari.
D. Diagnosa
Diagnosis ditegakkan berdasarkan gejala dan ruam kulit yang khas.
Pemeriksaan lain yang mungkin perlu dilakukan: - pemeriksaan darah, pemeriksaan darah tepi - pemeriksaan Ig M anti campak - Pemeriksaan komplikasi campak :
• enteritis
• Ensephalopati,
• Bronkopneumoni
E.Pengobatan
Tidak ada pengobatan khusus untuk campak. Anak sebaiknya menjalani tirah baring. Untuk menurunkan demam, diberikan asetaminofen atau ibuprofen. Jika terjadi infeksi bakteri, diberikan antibiotik.
F.Pencegahan
Vaksin campak merupakan bagian dari imunisasi rutin pada anak-anak. Vaksin biasanya diberikan dalam bentuk kombinasi dengan gondongan dan campak Jerman (vaksin MMR/mumps, measles, rubella), disuntikkan pada otot paha atau lengan atas.
Jika hanya mengandung campak, vaksin dibeirkan pada umur 9 bulan. Dalam bentuk MMR, dosis pertama diberikan pada usia 12-15 bulan, dosis kedua diberikan pada usia 4-6 tahun.
selain itu penderita juga harus disarankan untuk istirahat minimal 10 hari dan makan makanan yang bergizi agar kekebalan tubuh meningkat.
4. POLIO
A. Pengertian
Poliomielitis atau polio, adalah penyakit paralisis atau lumpuh yang disebabkan oleh virus. Agen pembawa penyakit ini, sebuah virus yang dinamakan poliovirus (PV), masuk ke tubuh melalui mulut, mengifeksi saluran usus. Virus ini dapat memasuki aliran darah dan mengalir ke sistem saraf pusat menyebabkan melemahnya otot dan kadang kelumpuhan (paralisis).
B. Vaksin Efektif Pertama
Vaksin efektif pertama dikembangkan oleh Jonas Salk. Salk menolak untuk mematenkan vaksin ini karena menurutnya vaksin ini milik semua orang seperti halnya sinar matahari. Namun vaksin yang digunakan untuk inokulasi masal adalah vaksin yang dikembangkan oleh Albert Sabin. Inokulasi pencegahan polio anak untuk pertama kalinya diselenggarakan di Pittsburgh, Pennsylvania pada 23 Februari 1954. Polio hilang di Amerika pada tahun 1979.
5. PERTUSIS
A. Pengertian
Pertusis atau batuk rejan atau batuk seratus hari adalah suatu penyakit akut yang disebabkan oleh Bordetella pertusis. Pertusis merupakan penyakit yang toxin mediated, toksin yang dihasilkan kuman (melekat pada bulu getar saluran nafas atas) akan melumpuhkan bulu getar tersebut sehingga gangguan aliran sekret saluran pernapasan, dan berpotensi menyebabkan pneumonia.
Gejalanya khas yaitu Batuk yang terus menerus sukar berhenti, muka menjadi merah atau kebiruan dan muntah kadang-kadang bercampur darah. Batuk diakhiri dengan tarikan napas panjang dan dalam,berbunyi melengking.
Penularan umumnya terjadi melalui udara ( batuk / bersin ). Pencegahan paling efektif adalah dengan melakukan imunisasi bersamaan dengan Tetanus dan Difteri, dilakukan sebanyak tiga kali sejak bayi berumur dua bulan dengan selang waktu penyuntikan satu – dua bulan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Balita sangat mungkin mengalami satu atau lebih penyakit selama tahun pertama kehidupannya. Hal ini karena balita belum memiliki sistem kekebalan tubuh yang optimal, sehingga rentan terkena penyakit. Sebagai seorang Nakes kita harus mengetahui penyakit apa saja yang sering terjadi pada balita dan bagaimana cara menanganinya.
B. Saran
Semua tenaga Kesehatan harus berkompeten dan profesional agar dapat menjalankan fungsinya dengan baik.
DAFTAR PUSTAKA
1. www. parents giuide.batter parents batter generetion.
2. Alimul, aziz. A. Pengantar Ilmu Kesehatan Anak untuk Pendidikan Kebidanan
3. . Neil, W.R. Panduan Lengkap Perawatan bay dan balita. Jakarta. Dian Rakyat; 2001.
4.. Departemen Kesehatan RI,. Asuhan neonatus bayi dan balita.Dalam Konteks Keluarga, Jakarta; 1992.
THYPUS ABDOMINALIS
1. Definisi
Thypus Abdominalis adalah suatu penyakit infeksi pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Rampengan,1990)
2. Anatomi Fisiologi
Susunan saluran pencernaan terdiri dari : Oris (mulut), faring (tekak), esofagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus), intestinum mayor (usus besar ), rektum dan anus. Pada kasus demam tifoid, salmonella typi berkembang biak di usus halus (intestinum minor). Intestinum minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum, panjangnya 6 cm, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari : lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).
Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum. Duodenum disebut juga usus dua belas jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selapu t lendir yang membukit yang disebut papila vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledikus) dan saluran pankreas (duktus wirsung/duktus pankreatikus). Dinding duodenum ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyenum dengan panjang 23 meter dari ileum dengan panjang 4 – 5 m. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan peritonium yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium.
Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena mesenterika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritonium yang membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas.
Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter ileoseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula seikalis atau valvula baukhim yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam asendens tidak masuk kembali ke dalam ileum.
Mukosa usus halus. Permukaan epitel yang sangata luas melalui lipatan mukosa dan mikrovili memudahkan pencernaan dan absorbsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Pada penampang melintang vili dilapisi oleh epitel dan kripta yag menghasilkan bermacam-macam hormon jaringan dan enzim yang memegang peranan aktif dalam pencernaan.
Didalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel, termasuk banyak leukosit. Disana-sini terdapat beberapa nodula jaringan limfe, yang disebut kelenjar soliter. Di dalam ilium terdapat kelompok-kelompok nodula itu. Mereka membentuk tumpukan kelenjar peyer dan dapat berisis 20 sampai 30 kelenjar soliter yang panjangnya satu sentimeter sampai beberapa sentimeter. Kelenjar-kelenjar ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat peradangan pada demam usus (tifoid). Sel-sel Peyer’s adalah sel-sel dari jaringan limfe dalam membran mukosa. Sel tersebut lebih umum terdapat pada ileum daripada yeyenum. ( Evelyn C. Pearce, 2000)
Absorbsi. Absorbsi makanan yang sudah dicernakan seluruhnya berlangsung dalam usus halus melalui dua saluran, yaitu pembuluh kapiler dalam darah dan saluran limfe di sebelah dalam permukaan vili usus. Sebuah vili berisis lakteal, pembuluh darah epitelium dan jaringan otot yang diikat bersama jaringan limfoid seluruhnya diliputi membran dasar dan ditutupi oleh epitelium.
Karena vili keluar dari dinding usus maka bersentuhan dengan makanan cair dan lemak yang di absorbsi ke dalam lakteal kemudian berjalan melalui pembuluh limfe masuk ke dalam pembuluh kapiler darah di vili dan oleh vena porta dibawa ke hati untuk mengalami beberapa perubahan.
Fungsi usus halus
a. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran – saluran limfe.
b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c. Karbohidrat diserap dalam betuk monosakarida.
Didalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan.
a. Enterokinase, mengaktifkan enzim proteolitik.
b. Eripsin menyempurnakan pencernaan protein menjadi asam amino.
1. Laktase mengubah laktase menjadi monosakarida.
2. Maltosa mengubah maltosa menjadi monosakarida
3. Sukrosa mengubah sukrosa menjadi monosakarida
3. Patofisiologi
Kuman Salmonella Typi masuk tubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnakan oleh asam lambung. Sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertrofi. Di tempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman Salmonella Typi kemudian menembud ke lamina propia, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe mesenterial, yang juga mengalami hipertrofi. Setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini salmonella typi masuk ke aliran darah melalui duktus thoracicus. Kuman salmonella typi lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus. Salmonella typi bersarang di plaque peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain sistem retikuloendotelial. Semula disangka demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid disebabkan oleh endotoksemia. Tapi kemudian berdasarkan penelitian ekperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid. Endotoksin salmonella typi berperan pada patogenesis demam tifoid, karena membantu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan tempat salmonella typi berkembang biak. Demam pada tifoid disebabkan karena salmonella typi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan penglepasan zat pirogen oleh zat leukosit pada jaringan yang meradang.
Masa tunas demam tifoid berlangsung 10-14 hari. Gejala-gejala yang timbul amat bervariasi. Perbedaaan ini tidak saja antara berbagai bagian dunia, tetapi juga di daerah yang sama dari waktu ke waktu. Selain itu gambaran penyakit bervariasi dari penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian hal ini menyebabkan bahwa seorang ahli yang sudah sangat berpengalamanpun dapat mengalami kesulitan membuat diagnosis klinis demam tifoid.
Dalam minggu pertama penyakit keluhan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya , yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisis hanya didapatkan suhu badan meningkat. dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas dengan demam, bradikardia relatif, lidah yang khas (kotor di tengah, tepi daan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia.
4. Dampak Masalah
a. Pada pasien
1) Pola persepsi dan metabolisme
Nafsu makan klien meurun yang disertai dengan mual dan muntah.
2) Pola eliminasi
Klien tyfoid biasanya mengalami konstipasi bahkan diare.
3) Pola aktivitas dan latihan
Klien demam tyfoid haruslah tirah baring total untuk mencegah terjadinya komplikasi yang berakibat aktivitas klien terganggu. Semua keperluan klien dibantu dengan tujuan mengurangi kegiatan atau aktivitas klien. Tirah baring totalnya yang dapat menyebabkan terjadinya dekubitus dan kontraktur sendi.
4) Pola tidur dan istirahat
Terganngu karena klien biasanya gelisah akibat peningkatan suhu tubuh. Selain itu juga klien belum terbiasa dirawat di rumah sakit.
5) Pola penanggulangan stress
Pada pola ini terjadi gangguan dalam menyelesaikan permasalahan dari dalam diri klien sehubungan penyakit yang dideritanya.
b. Pada keluarga
1) Adanya beban mental sebagai akiabt dari salah satu anggota keluarganya dirawat di rumah sakit karena sakit yang di deritanya sehingga menimbulkan kecemasan.
2) Biaya merupakan masalah yang dapat menimbulkan beban keluarga. Bila perawatan yang diperlukan memerlukan perawatan yang konservatif yang lama di rumah sakit, akan memerlukan biaya yang cukup banyak, sehingga dapat menimbulkan beban keluarga.
3) Akibat klien di rawat di rumah sakit maka akan menambah kesibukan keluarga yang harus menunggu anggota keluarga yang sakit.
Thypus Abdominalis adalah suatu penyakit infeksi pada usus halus dengan gejala demam satu minggu atau lebih disertai gangguan pada saluran pencernaan dengan atau tanpa gangguan kesadaran. (Rampengan,1990)
2. Anatomi Fisiologi
Susunan saluran pencernaan terdiri dari : Oris (mulut), faring (tekak), esofagus (kerongkongan), ventrikulus (lambung), intestinum minor (usus halus), intestinum mayor (usus besar ), rektum dan anus. Pada kasus demam tifoid, salmonella typi berkembang biak di usus halus (intestinum minor). Intestinum minor adalah bagian dari sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan berakhir pada seikum, panjangnya 6 cm, merupakan saluran paling panjang tempat proses pencernaan dan absorbsi hasil pencernaan yang terdiri dari : lapisan usus halus, lapisan mukosa (sebelah dalam), lapisan otot melingkar (M sirkuler), lapisan otot memanjang (muskulus longitudinal) dan lapisan serosa (sebelah luar).
Usus halus terdiri dari duodenum (usus 12 jari), yeyenum dan ileum. Duodenum disebut juga usus dua belas jari, panjangnya 25 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke kiri pada lengkungan ini terdapat pankreas. Dari bagian kanan duodenum ini terdapat selapu t lendir yang membukit yang disebut papila vateri. Pada papila vateri ini bermuara saluran empedu (duktus koledikus) dan saluran pankreas (duktus wirsung/duktus pankreatikus). Dinding duodenum ini mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar, kelenjar ini disebut kelenjar brunner yang berfungsi untuk memproduksi getah intestinum.
Yeyenum dan ileum mempunyai panjang sekitar 6 meter. Dua perlima bagian atas adalah yeyenum dengan panjang 23 meter dari ileum dengan panjang 4 – 5 m. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan peritonium yang berbentuk kipas dikenal sebagai mesenterium.
Akar mesenterium memungkinkan keluar dan masuknya cabang-cabang arteri dan vena mesenterika superior, pembuluh limfe dan saraf ke ruang antara 2 lapisan peritonium yang membentuk mesenterium. Sambungan antara yeyenum dan ileum tidak mempunyai batas yang tegas.
Ujung dibawah ileum berhubungan dengan seikum dengan perantaraan lubang yang bernama orifisium ileoseikalis. Orifisium ini diperlukan oleh spinter ileoseikalis dan pada bagian ini terdapat katup valvula seikalis atau valvula baukhim yang berfungsi untuk mencegah cairan dalam asendens tidak masuk kembali ke dalam ileum.
Mukosa usus halus. Permukaan epitel yang sangata luas melalui lipatan mukosa dan mikrovili memudahkan pencernaan dan absorbsi. Lipatan ini dibentuk oleh mukosa dan sub mukosa yang dapat memperbesar permukaan usus. Pada penampang melintang vili dilapisi oleh epitel dan kripta yag menghasilkan bermacam-macam hormon jaringan dan enzim yang memegang peranan aktif dalam pencernaan.
Didalam dinding mukosa terdapat berbagai ragam sel, termasuk banyak leukosit. Disana-sini terdapat beberapa nodula jaringan limfe, yang disebut kelenjar soliter. Di dalam ilium terdapat kelompok-kelompok nodula itu. Mereka membentuk tumpukan kelenjar peyer dan dapat berisis 20 sampai 30 kelenjar soliter yang panjangnya satu sentimeter sampai beberapa sentimeter. Kelenjar-kelenjar ini mempunyai fungsi melindungi dan merupakan tempat peradangan pada demam usus (tifoid). Sel-sel Peyer’s adalah sel-sel dari jaringan limfe dalam membran mukosa. Sel tersebut lebih umum terdapat pada ileum daripada yeyenum. ( Evelyn C. Pearce, 2000)
Absorbsi. Absorbsi makanan yang sudah dicernakan seluruhnya berlangsung dalam usus halus melalui dua saluran, yaitu pembuluh kapiler dalam darah dan saluran limfe di sebelah dalam permukaan vili usus. Sebuah vili berisis lakteal, pembuluh darah epitelium dan jaringan otot yang diikat bersama jaringan limfoid seluruhnya diliputi membran dasar dan ditutupi oleh epitelium.
Karena vili keluar dari dinding usus maka bersentuhan dengan makanan cair dan lemak yang di absorbsi ke dalam lakteal kemudian berjalan melalui pembuluh limfe masuk ke dalam pembuluh kapiler darah di vili dan oleh vena porta dibawa ke hati untuk mengalami beberapa perubahan.
Fungsi usus halus
a. Menerima zat-zat makanan yang sudah dicerna untuk diserap melalui kapiler-kapiler darah dan saluran – saluran limfe.
b. Menyerap protein dalam bentuk asam amino.
c. Karbohidrat diserap dalam betuk monosakarida.
Didalam usus halus terdapat kelenjar yang menghasilkan getah usus yang menyempurnakan makanan.
a. Enterokinase, mengaktifkan enzim proteolitik.
b. Eripsin menyempurnakan pencernaan protein menjadi asam amino.
1. Laktase mengubah laktase menjadi monosakarida.
2. Maltosa mengubah maltosa menjadi monosakarida
3. Sukrosa mengubah sukrosa menjadi monosakarida
3. Patofisiologi
Kuman Salmonella Typi masuk tubuh manusia melalui mulut dengan makanan dan air yang tercemar. Sebagian kuman dimusnakan oleh asam lambung. Sebagian lagi masuk ke usus halus dan mencapai jaringan limfoid plaque peyeri di ileum terminalis yang mengalami hipertrofi. Di tempat ini komplikasi perdarahan dan perforasi intestinal dapat terjadi. Kuman Salmonella Typi kemudian menembud ke lamina propia, masuk aliran limfe dan mencapai kelenjar limfe mesenterial, yang juga mengalami hipertrofi. Setelah melewati kelenjar-kelenjar limfe ini salmonella typi masuk ke aliran darah melalui duktus thoracicus. Kuman salmonella typi lain mencapai hati melalui sirkulasi portal dari usus. Salmonella typi bersarang di plaque peyeri, limpa, hati dan bagian-bagian lain sistem retikuloendotelial. Semula disangka demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid disebabkan oleh endotoksemia. Tapi kemudian berdasarkan penelitian ekperimental disimpulkan bahwa endotoksemia bukan merupakan penyebab utama demam dan gejala-gejala toksemia pada demam tifoid. Endotoksin salmonella typi berperan pada patogenesis demam tifoid, karena membantu terjadinya proses inflamasi lokal pada jaringan tempat salmonella typi berkembang biak. Demam pada tifoid disebabkan karena salmonella typi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan penglepasan zat pirogen oleh zat leukosit pada jaringan yang meradang.
Masa tunas demam tifoid berlangsung 10-14 hari. Gejala-gejala yang timbul amat bervariasi. Perbedaaan ini tidak saja antara berbagai bagian dunia, tetapi juga di daerah yang sama dari waktu ke waktu. Selain itu gambaran penyakit bervariasi dari penyakit ringan yang tidak terdiagnosis, sampai gambaran penyakit yang khas dengan komplikasi dan kematian hal ini menyebabkan bahwa seorang ahli yang sudah sangat berpengalamanpun dapat mengalami kesulitan membuat diagnosis klinis demam tifoid.
Dalam minggu pertama penyakit keluhan gejala serupa dengan penyakit infeksi akut pada umumnya , yaitu demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare, perasaan tidak enak di perut, batuk dan epistaksis. Pada pemeriksaan fisis hanya didapatkan suhu badan meningkat. dalam minggu kedua gejala-gejala menjadi lebih jelas dengan demam, bradikardia relatif, lidah yang khas (kotor di tengah, tepi daan ujung merah dan tremor), hepatomegali, splenomegali, meteroismus, gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium atau psikosis, roseolae jarang ditemukan pada orang Indonesia.
4. Dampak Masalah
a. Pada pasien
1) Pola persepsi dan metabolisme
Nafsu makan klien meurun yang disertai dengan mual dan muntah.
2) Pola eliminasi
Klien tyfoid biasanya mengalami konstipasi bahkan diare.
3) Pola aktivitas dan latihan
Klien demam tyfoid haruslah tirah baring total untuk mencegah terjadinya komplikasi yang berakibat aktivitas klien terganggu. Semua keperluan klien dibantu dengan tujuan mengurangi kegiatan atau aktivitas klien. Tirah baring totalnya yang dapat menyebabkan terjadinya dekubitus dan kontraktur sendi.
4) Pola tidur dan istirahat
Terganngu karena klien biasanya gelisah akibat peningkatan suhu tubuh. Selain itu juga klien belum terbiasa dirawat di rumah sakit.
5) Pola penanggulangan stress
Pada pola ini terjadi gangguan dalam menyelesaikan permasalahan dari dalam diri klien sehubungan penyakit yang dideritanya.
b. Pada keluarga
1) Adanya beban mental sebagai akiabt dari salah satu anggota keluarganya dirawat di rumah sakit karena sakit yang di deritanya sehingga menimbulkan kecemasan.
2) Biaya merupakan masalah yang dapat menimbulkan beban keluarga. Bila perawatan yang diperlukan memerlukan perawatan yang konservatif yang lama di rumah sakit, akan memerlukan biaya yang cukup banyak, sehingga dapat menimbulkan beban keluarga.
3) Akibat klien di rawat di rumah sakit maka akan menambah kesibukan keluarga yang harus menunggu anggota keluarga yang sakit.
SEPSIS
A. DEFINISI
Sepsis adalah sindrom dikarakteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang dapat berkembang ke arah septisemen dan syok septic. Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat dan zat-zat racunnya yang dapat mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar.
B. ETIOLOGI
Zat-zat pathogen dapat berupa bakteri, jamur, virus atau neketsia. Penyebab paling sering dari sepsis mulai adalah Streptococus Grop (SGB). Sepsis mulai akhir dapat disebabkan oleh SBG, virus nepsis simfleks (HUS, enterovirus dan Ecoli KI pada bayi dengan berat badan lahir rendah, candida dan stoptikokus Koagulse negatif (CONS) merupakan pathogen yang umum pada sepsis mulai akhir.
C. PATOGENESIS
Walaupun yang terjadi penghirupan cairan amnion yang terinfeksi dapat menyebab kan pneumonia dan sepsis dalam rahim, ditandai dengan distress janin atau neonatus. Pemaparan terhadap pathogen saat persalinan dan dalam ruang perawatan atau di masyarakat merupakan mekanisme infeksi setelah lahir. Manifestasi fisiologis respon terhadap peradangan ditengahi oleh berbagai sitokin pra radang, terutama TNF, interleukin I (IL-1) dan IL-6, dan oleh samping aktivasi sistem komplemen dan koagulasi. Namun peningkatan kadar IL-6, TMF dan faktor pengaktif trobogulasi telah dilaporkan pada bayi baru lahir yang menderita sepsis neonotarum dan enteroklotolisis nekrotikans (NEC) IL-6 nampaknya merupakan sitokin yang paling sering meningkat pada sepsis neonaturum.
D. MANIFESTASI KLINIS
- Umum : panas, hipotermi, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerima
- Saluran cerna : distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hipotamegali
- Saluran napas : apneo, dispneo, takipneo, netrasi, napas kuping hidung, merintih, sianosis.
- Sistem kardiovaskuler : pucat, sianosis, kulit marmoata, kulit lembab, hipotensi, takikardi, bradikardia.
- Sistem saraf pusat : irritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas, minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun membonjul.
- Hematologi : ikterus splenomegali, pucat, petekie, purpura, pendarahan.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Bila sindrom klinis mengarah ke sepsis, perlu dilakukan evaluasi sepsis secara menyeluruh. Hal ini termasuk biakan darah, fungsi lumbal, analis dan kultur urin, serta thorak foto.
Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan neutropemia dengan pergeseran ke kiri (imatur: total seri granolisik > 0,2). Selain itu dapat dijumpai pula trombo-setopeni adanya peningkatan reaktans fase akut seperti C Reaktif Protein (CRP) memperkuat dugaan sepsis.
F. PENATALAKSANAAN
1. Suportif
- Lakukan monitoring cairan elektrolit dan glukosa
- Berikan koreksi jika terjadi hipovolemia, hipokalsemia dan hipoglikemia
- Bila terjadi SIADH (Syndrome of Inappropriate Anti Diuretik Hormon) batasi cairan
- Atasi syok, hipoksia, dan asidosis metabolic.
- Awasi adanya hiperbilirubinemia
- Lakukan transfuse tukar bila perlu
- Pertimbangkan nurtisi parenteral bila pasien tidak dapat menerima nutrisi enteral.
2. Kausatif
Antibiotic diberikan sebelum kuman penyebab diketahui. Biasanya digunakan golongan Penicilin seperti Ampicillin ditambah Aminoglikosida seperti Gentamicin. Pada sepsis nasokomial, antibiotic diberikan dengan mempertim-bangkan flora di ruang perawatan, namun sebagai terapi inisial biasanay diberikan vasokomisi dan aminolikosida atau sefalosforin generasi ketiga. Setelah didaapt hasil biakan dan uji sistematis diberikan antibiotic yang sesuai. Tetapi dilakukan selama 10-14 hari, bila terjadi Meningitis, antibiotic diberikan selama 14-21 hari dengan dosis sesuai untuk Meningitis.
Sepsis adalah sindrom dikarakteristikkan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang dapat berkembang ke arah septisemen dan syok septic. Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah yang disebabkan oleh penggandaan mikroorganisme secara cepat dan zat-zat racunnya yang dapat mengakibatkan perubahan psikologis yang sangat besar.
B. ETIOLOGI
Zat-zat pathogen dapat berupa bakteri, jamur, virus atau neketsia. Penyebab paling sering dari sepsis mulai adalah Streptococus Grop (SGB). Sepsis mulai akhir dapat disebabkan oleh SBG, virus nepsis simfleks (HUS, enterovirus dan Ecoli KI pada bayi dengan berat badan lahir rendah, candida dan stoptikokus Koagulse negatif (CONS) merupakan pathogen yang umum pada sepsis mulai akhir.
C. PATOGENESIS
Walaupun yang terjadi penghirupan cairan amnion yang terinfeksi dapat menyebab kan pneumonia dan sepsis dalam rahim, ditandai dengan distress janin atau neonatus. Pemaparan terhadap pathogen saat persalinan dan dalam ruang perawatan atau di masyarakat merupakan mekanisme infeksi setelah lahir. Manifestasi fisiologis respon terhadap peradangan ditengahi oleh berbagai sitokin pra radang, terutama TNF, interleukin I (IL-1) dan IL-6, dan oleh samping aktivasi sistem komplemen dan koagulasi. Namun peningkatan kadar IL-6, TMF dan faktor pengaktif trobogulasi telah dilaporkan pada bayi baru lahir yang menderita sepsis neonotarum dan enteroklotolisis nekrotikans (NEC) IL-6 nampaknya merupakan sitokin yang paling sering meningkat pada sepsis neonaturum.
D. MANIFESTASI KLINIS
- Umum : panas, hipotermi, tampak tidak sehat, malas minum, letargi, sklerima
- Saluran cerna : distensi abdomen, anoreksia, muntah, diare, hipotamegali
- Saluran napas : apneo, dispneo, takipneo, netrasi, napas kuping hidung, merintih, sianosis.
- Sistem kardiovaskuler : pucat, sianosis, kulit marmoata, kulit lembab, hipotensi, takikardi, bradikardia.
- Sistem saraf pusat : irritabilitas, tremor, kejang, hiporefleksi, malas, minum, pernapasan tidak teratur, ubun-ubun membonjul.
- Hematologi : ikterus splenomegali, pucat, petekie, purpura, pendarahan.
E. PEMERIKSAAN PENUNJANG
Bila sindrom klinis mengarah ke sepsis, perlu dilakukan evaluasi sepsis secara menyeluruh. Hal ini termasuk biakan darah, fungsi lumbal, analis dan kultur urin, serta thorak foto.
Pada pemeriksaan darah tepi dapat ditemukan neutropemia dengan pergeseran ke kiri (imatur: total seri granolisik > 0,2). Selain itu dapat dijumpai pula trombo-setopeni adanya peningkatan reaktans fase akut seperti C Reaktif Protein (CRP) memperkuat dugaan sepsis.
F. PENATALAKSANAAN
1. Suportif
- Lakukan monitoring cairan elektrolit dan glukosa
- Berikan koreksi jika terjadi hipovolemia, hipokalsemia dan hipoglikemia
- Bila terjadi SIADH (Syndrome of Inappropriate Anti Diuretik Hormon) batasi cairan
- Atasi syok, hipoksia, dan asidosis metabolic.
- Awasi adanya hiperbilirubinemia
- Lakukan transfuse tukar bila perlu
- Pertimbangkan nurtisi parenteral bila pasien tidak dapat menerima nutrisi enteral.
2. Kausatif
Antibiotic diberikan sebelum kuman penyebab diketahui. Biasanya digunakan golongan Penicilin seperti Ampicillin ditambah Aminoglikosida seperti Gentamicin. Pada sepsis nasokomial, antibiotic diberikan dengan mempertim-bangkan flora di ruang perawatan, namun sebagai terapi inisial biasanay diberikan vasokomisi dan aminolikosida atau sefalosforin generasi ketiga. Setelah didaapt hasil biakan dan uji sistematis diberikan antibiotic yang sesuai. Tetapi dilakukan selama 10-14 hari, bila terjadi Meningitis, antibiotic diberikan selama 14-21 hari dengan dosis sesuai untuk Meningitis.
DISTOSIA KELAINAN JALAN LAHIR
1 . Distosia
Definisi
Distosia adalah kesulitan dalam jalannya persalinan
Distosia karena kelainan jalan lahir ( Passage )
Distosia ini meliputi :
a. Bentuk dan Kelainan Panggul
b. Kelainan jalan lahir lunak ( kelainan Servik )
c. Disproporsi Kepala Panggul ( Cephalo Pelvik Disproportion )
Jenis – jenis panggul
a ) Panggul ginekoid paling ideal, bulat dengan pintu atas yang bundar, atau dengan diameter transversa yang lebih panjang sedikit dari pada diameter antero posterior dan dengan panggul tengah serta pintu bawah panggul yang cukup luas
b ) Panggul antropoid agak lonjong seperti telur dengan diameter antero posterior yang lebih panjang dari pada diameter transversa, dan dengan arkus pubis menyempit sedikit
c ) Panggul android panggul pria, segitiga dengan pintu atas panggul yang berbentuk sebagai segitiga berhubungan dengan penyempitan ke depan, dengan spina iskiadika menonjol kedalam dan dengan arkus pubis menyempit
d ) Panggul platipelloid picak , menyempit arah muka belakang dengan diameter antero posterior yang jelas lebih pendek daripada diameter trasversa pada pintu atas panggul dan dengan arkus pubis yang luas
Jenis panggul wanita indonesia ( Daka dan Moeljo )
Ginekoid 64,2 %
Antropoid 16,3 %
Platipelloid 13,6 %
Android 2,2 %
Panggul patologik 3 %
a. Bentuk dan kelainan panggul
Kelainan bentuk panggul yang tidak normal Ginekoid, misalnya panggul jenis Naegele, Rachitis, Scoliosis, Kyiphosis dan Robert
Perubahan bentuk karena kelainan pertumbuhan intrauterin, misalnya panggul Naegele, Robert, Split pelvis dan Asimilasi
Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang-tulang panggul dan sendi panggul misalnya panggul Rakitis, Osteomalasia, Neoplasma, Fraktur, Atrofi, Karies, Nekrosis, penyakit pada sendi sakroiliaka dan sendi sakrokoksigea
Perubahan bentuk karena penyakit tulang belakang misalnya Kiposis, Skoliosis dan Spondilolistesis
Perubahan bentuk karena penyakit kaki misalnya Koksitis, Luksasio koksa, Atropi atau kelumpuhan satu kaki
• Panggul Naegele hanya mempunyai sebuah sayap pada sakrum , sehingga panggul tumbuh sebagai panggul miring
• Panggul Robert kedua sayap sakrum tidak ada, sehingga panggul sempit dalam ukuran melintang
• Panggul rakitis akibat kekurangan vitamin D serta kalsium dalam makanan dan kurang mendapat sinar matahari
• Osteomalasia karena gangguan gizi yang hebat dan juga kekuranagn sianar matahari , yang menyebabkan perubahan bentuk tulang sehingga rongganya menjadi sempit
• Kifosis tulang belakang bagian bawah , sakrum bagian atas ditekan kebelakang , sedang sakrum bagian bawah memutar kedepan. Dengan demikian terdapat panggul corong dengan pintu atas panggul yang luas dan bidang – bidang lain menyempit
• Skoliosis tulang belakang bagian bawah , bentuk panggul dipengaruhi oleh perubahan pada tulang – tulang diatas dan panggul menjadi miring
Kelainan ukuran panggul yaitu panggul sempit
Panggul disebut sempit apabila ukurannya 1 – 2 cm kurang dari ukuran normal. Kesempitan panggul biasa pada :
Kesempitan pada pintu atas panggul
Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm , atau diameter transversa kurang dari 12 cm, oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala.
Kesempitan panggul tengah
Apabila ukuran inikurang dari 9,5 cm, perlu kita waspada terhadap kemungkinan kesukaran pada persalinan. Pada panggul tengah yang sempit , lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterior persisten atau presentasi kepala dalam posisi lintang tetap
Kesempitan pintu bawah panggul
Kalau diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm, timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa. Kesempitan outlet dapat menyebabkan perineal ruptur yang hebat, karena arkus pubis sempit kepala janin terpaksa melalui ruangan belakang.
b. Kelainan jalan lahir lunak
Adalah kelainan servik uteri, vagina , selaput dara dan keadaan lain pada jalan lahir lunak
1. kelainan servik
adalah terhalangnya kemajuan persalinan disebabkan kelainan pada serviks uteri. Walaupun his normal dan baik, kadang – kadang pembukaan serviksjadi macet karena ada kelainan yang menyebabkan serviks tidak mau membuka.
Ada 4 jenis kelainan pada serviks uteri :
Serviks kaku ( Rigid Cerviks )
Serviks gantung ( hanging Cerviks )
Servik konglumer ( Conglumeratio servicis )
Edema serviks
1. Serviks kaku ( Rigid Cervix )
Suatu keadaan dimana seluruh serviks kaku. Keadaan ini sering di jumpai pada primigravida tua, atau karena adanya parut-parut bekas luka atau bekas infeksi atau pada karsinoma servisis
Kejang atau kaku serviks di bagi 2 :
a. Primer : mungkin disebabkan oleh rasa takut atau pada primigravida tua atau psikis.
b. Sekunder : oleh karena luka – luka dan infeksi yang sembuh dan meninggalkan parut
Diagnosis
Diagnosis distosia persalinan karena serviks kaku dibuat bahwa pada his yang baik dan normal pada kala 1 menambah pembukaan, setelah dilakukan beberapa kali pemeriksaan dalam waktu yang tertentu. Juga pada pemeriksaan terasa serviks tegang dan kaku
Penanganan
Kalau diagnosa memang serviks kaku dan setelah pemberian obat – obatan seperti valium dan pethidin tidak merubah sifat kekakuan tindakan kita adalah melakukan seksio sesarea
2. Serviks gantung ( Hanging Serviks )
Adalah suatu keadaan di mana ostium uteri eksternum dapat terbuka lebar, sedangkan ostium uteri internum tidak mau membuka. Serviks akan tergantung seperti corong. Bila dalam observasi keadaan tetap begitu dan tidak ada kemajuan pada pembukaan ostium uteri internum, maka pertolongan yang tepat adalah secsio sesarea
3. Serviks konglumer ( Conglumeratio Serviks )
Adalah suatu keadaan dimana ostium uteri internum dapat terbuka sampai lengkap, sedangkan ostium uteri eksternum tidak mau membuka. Dalam hal ini servik dapat menjadi tipis , namun ostium uteri eksternum tidak membuka atau hanya terbuka 5 cm.
Penanganan tergantung pada keadaan turunnya kepala janin
Ostium uteri eksternum di coba melebarkan pembukaannya secara digital atau memakai dilatator
Ostium uteri eksternum diperlebar dengan sayatan menurut duhrssen ( Duhrssen incision ) seperti dibawah ini. Sayatan masing – masing selebar 1-2 cm dengan demekian pembukaan menjadi lengkap ( 10 cm ) dan partus dapat dipimpin atau diselesaikan dengan ekstraksi vakum atau forseps.
Edema serviks
Bila dijumpai edema yang hebat dari serviks disertai hematoma dan nekrosis ini merupakan tanda adanya obstruksi. Bila syarat-syarat untuk ekstraksi vakum atau forseps tidak dipenuhi penderita ditolong dengan seksio sesarea.
c. Cephalo Pelvik Disproporsi
Adalah kelainan jalan lahir karena perbedaan perbandingan antar panggul ibu dengan dengan kepala janin dan berarti bayi tidak dapat dilahirkan per vaginam.
Etiologi
Penyebab disproporsi kepala panggul berasal dari :
1. Pada ibu
a. kesempitan pintu atas panggul ( pelvis inlet )
b. kesempitan mid pelvis
c. kesempitan pitu bawah panggul ( outlet )
2. Pada janin
kelainan ukuran , bentuk dan besar janin
DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, Rustam . 1990. Synopsis obstetric. Jakarta : EGC
Wiknojosastro, Hanifa. 1992. Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan bina pustaka sarwono prawiharjo.
Definisi
Distosia adalah kesulitan dalam jalannya persalinan
Distosia karena kelainan jalan lahir ( Passage )
Distosia ini meliputi :
a. Bentuk dan Kelainan Panggul
b. Kelainan jalan lahir lunak ( kelainan Servik )
c. Disproporsi Kepala Panggul ( Cephalo Pelvik Disproportion )
Jenis – jenis panggul
a ) Panggul ginekoid paling ideal, bulat dengan pintu atas yang bundar, atau dengan diameter transversa yang lebih panjang sedikit dari pada diameter antero posterior dan dengan panggul tengah serta pintu bawah panggul yang cukup luas
b ) Panggul antropoid agak lonjong seperti telur dengan diameter antero posterior yang lebih panjang dari pada diameter transversa, dan dengan arkus pubis menyempit sedikit
c ) Panggul android panggul pria, segitiga dengan pintu atas panggul yang berbentuk sebagai segitiga berhubungan dengan penyempitan ke depan, dengan spina iskiadika menonjol kedalam dan dengan arkus pubis menyempit
d ) Panggul platipelloid picak , menyempit arah muka belakang dengan diameter antero posterior yang jelas lebih pendek daripada diameter trasversa pada pintu atas panggul dan dengan arkus pubis yang luas
Jenis panggul wanita indonesia ( Daka dan Moeljo )
Ginekoid 64,2 %
Antropoid 16,3 %
Platipelloid 13,6 %
Android 2,2 %
Panggul patologik 3 %
a. Bentuk dan kelainan panggul
Kelainan bentuk panggul yang tidak normal Ginekoid, misalnya panggul jenis Naegele, Rachitis, Scoliosis, Kyiphosis dan Robert
Perubahan bentuk karena kelainan pertumbuhan intrauterin, misalnya panggul Naegele, Robert, Split pelvis dan Asimilasi
Perubahan bentuk karena penyakit pada tulang-tulang panggul dan sendi panggul misalnya panggul Rakitis, Osteomalasia, Neoplasma, Fraktur, Atrofi, Karies, Nekrosis, penyakit pada sendi sakroiliaka dan sendi sakrokoksigea
Perubahan bentuk karena penyakit tulang belakang misalnya Kiposis, Skoliosis dan Spondilolistesis
Perubahan bentuk karena penyakit kaki misalnya Koksitis, Luksasio koksa, Atropi atau kelumpuhan satu kaki
• Panggul Naegele hanya mempunyai sebuah sayap pada sakrum , sehingga panggul tumbuh sebagai panggul miring
• Panggul Robert kedua sayap sakrum tidak ada, sehingga panggul sempit dalam ukuran melintang
• Panggul rakitis akibat kekurangan vitamin D serta kalsium dalam makanan dan kurang mendapat sinar matahari
• Osteomalasia karena gangguan gizi yang hebat dan juga kekuranagn sianar matahari , yang menyebabkan perubahan bentuk tulang sehingga rongganya menjadi sempit
• Kifosis tulang belakang bagian bawah , sakrum bagian atas ditekan kebelakang , sedang sakrum bagian bawah memutar kedepan. Dengan demikian terdapat panggul corong dengan pintu atas panggul yang luas dan bidang – bidang lain menyempit
• Skoliosis tulang belakang bagian bawah , bentuk panggul dipengaruhi oleh perubahan pada tulang – tulang diatas dan panggul menjadi miring
Kelainan ukuran panggul yaitu panggul sempit
Panggul disebut sempit apabila ukurannya 1 – 2 cm kurang dari ukuran normal. Kesempitan panggul biasa pada :
Kesempitan pada pintu atas panggul
Pintu atas panggul dianggap sempit apabila konjugata vera kurang dari 10 cm , atau diameter transversa kurang dari 12 cm, oleh karena pada panggul sempit kemungkinan lebih besar bahwa kepala tertahan oleh pintu atas panggul, maka dalam hal ini serviks uteri kurang mengalami tekanan kepala.
Kesempitan panggul tengah
Apabila ukuran inikurang dari 9,5 cm, perlu kita waspada terhadap kemungkinan kesukaran pada persalinan. Pada panggul tengah yang sempit , lebih sering ditemukan posisi oksipitalis posterior persisten atau presentasi kepala dalam posisi lintang tetap
Kesempitan pintu bawah panggul
Kalau diameter transversa dan diameter sagitalis posterior kurang dari 15 cm, timbul kemacetan pada kelahiran janin ukuran biasa. Kesempitan outlet dapat menyebabkan perineal ruptur yang hebat, karena arkus pubis sempit kepala janin terpaksa melalui ruangan belakang.
b. Kelainan jalan lahir lunak
Adalah kelainan servik uteri, vagina , selaput dara dan keadaan lain pada jalan lahir lunak
1. kelainan servik
adalah terhalangnya kemajuan persalinan disebabkan kelainan pada serviks uteri. Walaupun his normal dan baik, kadang – kadang pembukaan serviksjadi macet karena ada kelainan yang menyebabkan serviks tidak mau membuka.
Ada 4 jenis kelainan pada serviks uteri :
Serviks kaku ( Rigid Cerviks )
Serviks gantung ( hanging Cerviks )
Servik konglumer ( Conglumeratio servicis )
Edema serviks
1. Serviks kaku ( Rigid Cervix )
Suatu keadaan dimana seluruh serviks kaku. Keadaan ini sering di jumpai pada primigravida tua, atau karena adanya parut-parut bekas luka atau bekas infeksi atau pada karsinoma servisis
Kejang atau kaku serviks di bagi 2 :
a. Primer : mungkin disebabkan oleh rasa takut atau pada primigravida tua atau psikis.
b. Sekunder : oleh karena luka – luka dan infeksi yang sembuh dan meninggalkan parut
Diagnosis
Diagnosis distosia persalinan karena serviks kaku dibuat bahwa pada his yang baik dan normal pada kala 1 menambah pembukaan, setelah dilakukan beberapa kali pemeriksaan dalam waktu yang tertentu. Juga pada pemeriksaan terasa serviks tegang dan kaku
Penanganan
Kalau diagnosa memang serviks kaku dan setelah pemberian obat – obatan seperti valium dan pethidin tidak merubah sifat kekakuan tindakan kita adalah melakukan seksio sesarea
2. Serviks gantung ( Hanging Serviks )
Adalah suatu keadaan di mana ostium uteri eksternum dapat terbuka lebar, sedangkan ostium uteri internum tidak mau membuka. Serviks akan tergantung seperti corong. Bila dalam observasi keadaan tetap begitu dan tidak ada kemajuan pada pembukaan ostium uteri internum, maka pertolongan yang tepat adalah secsio sesarea
3. Serviks konglumer ( Conglumeratio Serviks )
Adalah suatu keadaan dimana ostium uteri internum dapat terbuka sampai lengkap, sedangkan ostium uteri eksternum tidak mau membuka. Dalam hal ini servik dapat menjadi tipis , namun ostium uteri eksternum tidak membuka atau hanya terbuka 5 cm.
Penanganan tergantung pada keadaan turunnya kepala janin
Ostium uteri eksternum di coba melebarkan pembukaannya secara digital atau memakai dilatator
Ostium uteri eksternum diperlebar dengan sayatan menurut duhrssen ( Duhrssen incision ) seperti dibawah ini. Sayatan masing – masing selebar 1-2 cm dengan demekian pembukaan menjadi lengkap ( 10 cm ) dan partus dapat dipimpin atau diselesaikan dengan ekstraksi vakum atau forseps.
Edema serviks
Bila dijumpai edema yang hebat dari serviks disertai hematoma dan nekrosis ini merupakan tanda adanya obstruksi. Bila syarat-syarat untuk ekstraksi vakum atau forseps tidak dipenuhi penderita ditolong dengan seksio sesarea.
c. Cephalo Pelvik Disproporsi
Adalah kelainan jalan lahir karena perbedaan perbandingan antar panggul ibu dengan dengan kepala janin dan berarti bayi tidak dapat dilahirkan per vaginam.
Etiologi
Penyebab disproporsi kepala panggul berasal dari :
1. Pada ibu
a. kesempitan pintu atas panggul ( pelvis inlet )
b. kesempitan mid pelvis
c. kesempitan pitu bawah panggul ( outlet )
2. Pada janin
kelainan ukuran , bentuk dan besar janin
DAFTAR PUSTAKA
Mochtar, Rustam . 1990. Synopsis obstetric. Jakarta : EGC
Wiknojosastro, Hanifa. 1992. Ilmu kebidanan. Jakarta : Yayasan bina pustaka sarwono prawiharjo.
Langganan:
Postingan (Atom)
Entri Populer Q
-
BAB I PENDAHULUAN A. LATAR BELAKANG Perdarahan pada kehamilan harus selalu dianggap sebagai kelainan yang berbahaya. Perdarahan pada ke...
-
BAB I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Kebidanan sejak dahulu kala telah ada untuk mengurusi wanita yang melahirkan, tetapi upay...
-
Dipengaruhi oleh beberapa faktor dan subfaktor antara lain : 1. Faktor ibu 2. Faktor janin 3. Faktor plasenta Faktor ibu Keadaan keseh...
-
BAB I P E N D A H U L U A N A. Latar Belakang Arti kata Gaya dalam kehidupan sehari-hari agak berbeda dengan pengertian gaya dalam ilmu f...
-
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Indikator status kesehatan wanita dilihat dari Usia Harapan Hidupnya dapat diartikan sebagai penguk...